Universitas Airlangga Official Website

Fenomena Sosial dan Tantangan Kesehatan dari Merokok Tembakau di Indonesia

Prediktor Paparan Rokok pada Remaja yang Tidak Merokok
Foto: Liputan6

Kebiasaan merokok tembakau sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada kesehatan individu, tetapi juga membawa konsekuensi besar secara sosial dan ekonomi. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya perbedaan pola merokok pada penduduk berusia 15 tahun ke atas di wilayah perkotaan dan pedesaan selama periode 2021–2023. Bagaimana kondisi ini mencerminkan tantangan kesehatan dan sosial kita?

Visualisasi data memperlihatkan bahwa persentase perokok tembakau cenderung lebih tinggi di pedesaan dibandingkan perkotaan sepanjang tiga tahun terakhir. Pada 2021, lebih dari 50% penduduk pedesaan berusia 15 tahun ke atas dilaporkan sebagai perokok, sementara di perkotaan angkanya lebih rendah, berkisar di angka 30%. Tren serupa terus berlanjut hingga 2023, dengan sedikit perubahan pada proporsi totalnya.

Mengapa kesenjangan ini terjadi? Faktor sosial, ekonomi, dan budaya memegang peran penting. Di wilayah pedesaan, kebiasaan merokok sering kali dikaitkan dengan simbol keakraban sosial, tradisi, atau bahkan sebagai bentuk relaksasi di tengah tekanan pekerjaan fisik. Sebaliknya, di perkotaan, kesadaran kesehatan yang lebih tinggi dan akses terhadap informasi tentang bahaya merokok cenderung membatasi praktik ini.

Merokok menjadi salah satu pemicu utama penyakit tidak menular, seperti jantung, kanker paru-paru, dan stroke. Kebiasaan ini membawa beban besar pada sistem kesehatan, dengan biaya pengobatan yang sangat tinggi setiap tahunnya. Dengan tingginya prevalensi merokok di pedesaan, wilayah ini menghadapi risiko yang lebih besar dalam hal kesehatan masyarakat.

Kesenjangan ini menjadi semakin kompleks karena keterbatasan akses layanan kesehatan di pedesaan. Meskipun prevalensi merokok lebih tinggi, fasilitas kesehatan yang memadai, seperti pusat rehabilitasi bagi perokok, sering kali sulit dijangkau. Hal ini memperparah dampak kesehatan dari kebiasaan tersebut, terutama di kalangan masyarakat dengan penghasilan rendah.

Selain dampak kesehatan, merokok juga memengaruhi dinamika sosial, terutama dalam hubungan keluarga dan komunitas. Dalam banyak kasus, anak-anak yang tumbuh di lingkungan perokok memiliki risiko lebih tinggi untuk menjadi perokok di masa depan. Di pedesaan, di mana kebiasaan ini lebih diterima secara budaya, efek lintas generasi ini menjadi lebih sulit untuk diatasi.

Pendidikan memiliki peran krusial dalam mengurangi prevalensi merokok. Kampanye anti-rokok yang berbasis komunitas di pedesaan, jika didukung oleh pemerintah, dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya merokok. Di sisi lain, upaya ini juga harus menyasar perkotaan untuk memastikan bahwa kesadaran tidak hanya berkembang di wilayah dengan akses pendidikan dan informasi yang lebih baik.

  1. Peningkatan edukasi publik

Pemerintah dan organisasi kesehatan perlu memperluas kampanye anti-merokok ke pedesaan. Program berbasis komunitas, seperti pelatihan bagi tokoh masyarakat dan guru, dapat menjadi jembatan efektif untuk menyampaikan pesan kesehatan.

  • Regulasi ketat terhadap rokok

Kebijakan seperti kenaikan cukai rokok dan pembatasan iklan harus diperketat untuk membatasi akses terhadap produk tembakau, terutama di wilayah pedesaan.

  • Peningkatan akses layanan kesehatan

Pembangunan fasilitas kesehatan yang fokus pada pencegahan dan rehabilitasi terkait merokok perlu menjadi prioritas di pedesaan.

  • Mendorong perubahan budaya

Melibatkan tokoh adat dan agama dalam kampanye anti-merokok bisa membantu mengubah persepsi budaya yang mendukung kebiasaan ini.

Tingginya angka perokok tembakau di pedesaan dibandingkan perkotaan menggambarkan kompleksitas tantangan sosial dan kesehatan di Indonesia. Merokok bukan sekadar masalah pribadi, melainkan juga persoalan bersama yang memengaruhi kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.

Melalui kebijakan yang efektif, edukasi masyarakat yang menyeluruh, serta kerja sama lintas sektor, Indonesia memiliki kesempatan besar untuk menurunkan angka perokok, baik di wilayah pedesaan maupun perkotaan. Masa depan yang lebih sehat dan produktif hanya dapat tercapai jika kita segera mengambil tindakan nyata mulai sekarang. Pertanyaannya adalah apa langkah pertama yang bisa kita ambil bersama?

Penulis: Za’ima Rafifa Salsabila, Mahasiswa FTMM UNAIR