UNAIR NEWS – Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar kuliah tamu bertajuk Aquatic Environmental Science: Fundamental of Environmental Toxicology Related to Seafood Safety and Aquatic Eco(toxico)logy. Acara yang berlangsung secara daring pada Jumat (14/03/2025) itu menghadirkan narasumber dari Wageningen University, Prof Dr Albertinka J (Tinka) Murk.
Kuliah tamu itu membahas bagaimana lingkungan terdampak oleh zat beracun yang dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia dan dampaknya terhadap kesehatan manusia. Salah satu poin yang disoroti adalah keberadaan senyawa dihidrogen monoksida.
Senyawa itu tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak berasa, tetapi setiap tahun menyebabkan kasus kematian akibat paparan berlebih. Dihidrogen monoksida dapat dihasilkan dari proses industri seperti pembuatan styrofoam dan pestisida, serta memiliki dampak serius seperti memicu kanker dan tumor.
“Dihidrogen monoksida adalah senyawa yang sering tidak disadari keberadaannya, padahal dapat membahayakan kesehatan manusia. Paparan dalam jumlah besar bisa berakibat fatal,” ungkap Prof Tinka Murk dalam pemaparannya.
Selain itu, Prof Tinka Murk juga menyoroti isu kontaminasi logam berat dalam produk perikanan. Ia mengungkapkan bahwa konsumsi ikan patin saat ini perlu lebih diperhatikan karena dagingnya berpotensi terakumulasi logam berat. Hal itu menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih produk makanan laut demi kesehatan.
“Kita harus lebih waspada dalam mengonsumsi makanan laut. Beberapa jenis ikan sudah menunjukkan tanda-tanda akumulasi logam berat yang dapat berdampak pada kesehatan manusia dalam jangka panjang,” jelasnya.
Keamanan di Lingkungan Perairan
Lebih lanjut, kuliah tamu itu juga menyoroti dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan perairan. Salah satu contoh yang dibahas adalah penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, seperti pukat harimau.
Penggunaan alat ini dapat merusak ekosistem terumbu karang yang menjadi habitat bagi berbagai organisme laut. Kerusakan ekosistem tersebut tidak hanya berdampak pada biodiversitas laut, tetapi juga pada keseimbangan rantai makanan di perairan.
“Praktik perikanan yang tidak berkelanjutan dapat menyebabkan degradasi lingkungan yang signifikan. Kita perlu mencari solusi agar industri perikanan tetap berjalan tanpa merusak ekosistem,” tambah Prof Tinka Murk.
Melalui kuliah tamu ini, mahasiswa diharapkan dapat lebih memahami pentingnya menjaga lingkungan perairan agar tetap sehat dan aman, baik bagi ekosistem laut maupun bagi kesehatan manusia yang bergantung pada hasil laut.
Penulis : Dheva Yudistira Maulana
Editor : Khefti Al Mawalia





