Universitas Airlangga Official Website

‘FISIP Setara’ Upaya Hapus Kekerasan Seksual dan Diskriminasi Gender di Kampus

Narasumber menyampaikan materi, Florell Jovanna dan Firli Imansa dalam FISIP Setara pada Kamis (4/5/2023) (Foto: Shafa Aulia R)

UNAIR NEWS – Diskriminasi gender yang belum usai serta kekerasan berbasis gender (KBG) yang masih menjamur di masyarakat merupakan isu serius dan perlu disorot lebih lanjut. Terutama, untuk kalangan mahasiswa karena isu ini sangat dekat dengan realita sekitar.

Menyadari hal itu, pada Kamis (4/5/2023) Kementerian Pegerakan dan Kesetaraan Gender (KPKG) BEM FISIP UNAIR berkolaborasi dengan Kementerian Adkesma menggelar acara FISIP Setara. Acara itu berlangsung di ruang Adi Sukadana dengan menghadirkan dua narasumber yaitu Florell Jovanna (Presiden Girl Up UNAIR) dan Firli Imansa (Satgas PPKS) sebagai sarana diskusi dan edukasi terkait tema acara yaitu Have yet to stop: Kekerasan Seksual dan Diskriminasi Berbasis Gender.

Selaku ketua pelaksana, Adeva menyampaikan latar belakang menangkat tema tersebut. Yaitu, menyadari adanya keterkaitan antara diskriminasi berbasis gender dan kekerasan seksual.

Most of the time, diskriminasi berbasis gender bisa mengarah pada tindakan tindakan negatif lainnya seperti kekerasan seksual. Jadi, kita rasa perlu mengadakan FISIP SETARA ini untuk raising more awareness mengenai problematika hal-hal tersebut,” ungkap Adeva.

Kategori Kekerasan Seksual

Narasumber pertama yaitu Firli Imansa yang membahas terkait Have yet to stop Kekerasan Seksual. Firli menjelaskan apa saja yang terkategori kekerasan seksual. Ia menggunakan acuan Permendikbud No.30 tahun 2021.

Firli mengatakan, kekerasan seksual memiliki banyak macam bentuk, dalam bentuk siulanpun dapat terkategori.

“Bagi para pelaku kekerasan seksual berfikir tubuh korban tidak berkurang jika mereka memberi siulan atau komentar, namun psikis korban tidak bisa diabaikan. Psikis yang mengalami sangat serius. Kekerasan seksual bukan hanya yang melibatkan sentuhan fisik saja namun juga psikis,” ungkap Firli.

Memahami Kesetaraan Gender

Setelah penyampaian materi oleh Firli, materi selanjutnya dari Florell Jovanna yang membahas terkait bagaimana memahami kesetaraan gender misogini miskonsepsi kesetaraan gender antara perempuan dan laki laki. Flo menjelaskan, kesetaraan gender merujuk kepada suatu keadaan setara antara laki-laki dan perempuan dalam pemenuhan hak dan kewajiban yang sama.

Ia sangat menyayangkan di kalangan masyarakat masih banyak miskonsepsi terkait kesetaraan gender ini. “Aku rasa kita merasakan kondisi masalah masalah kekerasan seksual terjadi karena adanya kesalahpahaman memahami definisi kesetaraan gender ini, dan permasalahan kesetaraan gender ini dekat dengan realita,” ungkap Flo.

6 Struktur Patriarki

Flo juga menerangkan enam struktur patriarki yang mengarah pada subyektifitas. “Seperti stereotip masih banyak pandangan akan perempuan dan pekerjaan rumah dimana laki-laki dimaklumi meninggalkan urusan domestik sedangkan perempuan tidak. Kemudian pandangan perempuan tidak pantas memimpin karena lebih emosional,” ungkap Flo.

Di akhir, Flo memberikan tekanan juga bahwa patriarki tidak hanya berdampak pada perempuan saja, namun juga pada laki-laki dan kelompok marjinal. Oleh karenanya, Flo mengajak para peserta untuk terus menyurakan isu ini agar perempuan dan kelompok marginal bisa memiliki pilihannya sendiri.

Acara ditutup dengan sesi penandatanganan surat komitmen yang melibatkan perwakilan BEM FISIP, BLM FISIP, seluruh HIMA dan BSO FISIP. Dengan penandatanganan ini menunjukkan ormawa-ormawa tersebut bisa menjadi bagian dalam pergerakan kesetaran gender dan penghapusan diskriminasi berbasis gender di lingkungan kampus. (*)

Penulis: Shafa Aulia R

Editor: Binti Q. Masruroh