UNAIR NEWS – Sosok perempuan yang selama ini dikenal menjadi figur pendamping kaum laki-laki kini mulai gencar menampakkan ekistensinya di berbagai bidang. Salah satunya di dunia perpolitikan.
Mereka bukan lagi sebatas konco wingking yang menghabiskan waktu di balik layar. Perempuan masa kini mulai berani mengambil langkah untuk turut berperan serta menampakkan ”wajah”. Khususnya menjadi srikandi baru di panggung kepemimpinan.
Menanggapi fenomena eksistensi kaum perempuan di bidang kepemimpinan dan politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga menggelar diskusi publik yang bertajuk ”Kepemimpinan Srikandi-Srikandi dalam Panggung Politik” di Ruang Adi Sukadana, Kamis (19/7). Dalam diskusi kali ini, terdapat tiga dosen sebagai pembicara. yakni, Dr. Nurul Istifadah, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB); Airlangga Pribadi, Ph.D, dosen FISIP; dan Dr. Dwi Astuti, dosen DI Universitas Sunan Giri Surabaya.
Nurani Berbuat Baik
Menjadi pembicara I, Dr. Dwi membuka diskusi dengan menjelaskan sejarah panjang peran perempuan. Yakni, sejak zaman peradaban Islam hingga lahirnya sosok Kartini yang menjadi motor gerakan emansipasi wanita di Indonesia.
Meski begitu, Dr. Dwi menambahkan bahwa sejatinya tidak ada keinginan dalam diri perempuan untuk ”melangkahi” kaum laki-laki. Semuanya sudah memiliki fitrah dan batasnya masing-masing.
”Latar belakang perempuan untuk berani terjun dalam dunia politik dan kepemimpinan, tak lain adalah hati nurani yang tergerak dalam diri mereka untuk melakukan kebaikan. Ada pola pikir yang maju serta niatan positif untuk turut membangun bangsa,” ujarnya.
Kehadiran perempuan dalam panggung politik Indonesia dianggap tidak akan mengganggu posisi laki-laki. Justru peran perempuan bisa melengkapi ikhtiar dalam mencapai cita-cita bangsa. Dr. Dwi berharap harus ada akses yang selalu mendukung perempuan untuk mengembangkan diri.
Budaya Feodalisme
Sementara itu, Airlangga mengungkapkan bahwa media jarang mengekspos sejarah kekuatan atau daya perempuan dalam mengubah Indonesia. Hal tersebut tak terlepas dari cara penulisan sejarah Indonesia yang erat dengan budaya feodalisme. Pada akhirnya, itu berpengaruh pada struktur dan karakter politik di Indonesia.
“Saya pikir, struktur dan karakter politik Indonesia saat ini lebih mengedepankan pada hard politics, mengedepankan pada pertarungan politik. Ada kalangan intelektual yang bicara bahwa politik itu macho, maskulin,” katanya.
”Figur-figur perempuan yang tampil dalam pertarungan politik harus menyesuaikan kebudayaan struktur politik yang keras. Hal ini merupakan bentuk dari pandangan machois, patriarki,” tambahnya.
Airlangga berpendapat, sebutan Founding Fathers kepada para pendiri bangsa dirasa kurang tepat. Kata fathers, lanjut dia, hanya merujuk kepada kaum laki-laki sebagai pejuang kemerdekaan. Padahal, ada banyak tokoh-tokoh perempuan sebelum era Soekarno yang juga memperjuangkan kemerdekaan bangsa,
”Misalnya, Kartini, Cut Nyak Dien, dan Cut Meuti,” ujarnya.
”Mengapa tidak The Founders of Republic? Mengingat berdirinya negara ini juga tidak terlepas dari peran kaum perempuan,” tambahnya.
Pandangan terhadap perempuan bahwa mereka adalah sosok yang emosional merupakan hasil konstruksi sosial masyarakat selama ini. Nyatanya, perempuan dapat menjadi sosok yang kompeten dalam bidang kepemimpinan.
”Sebut saja Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dengan prestasinya selama menjadi pemimpin hingga dua periode,” sebutnya.
Jajaran menteri perempuan seperti Susi Pudjiastuti, Sri Mulyani, serta Gubernur Jawa Timur yang baru terpilih Khofifah Indar Parawansa, juga menjadi bukti. Bahwa kini banyak srikandi-srikandi Indonesia yang tak hanya bermodal eksistensi, tapi prestasi untuk ambil bagian memimpin negeri.
Peluang Perempuan
Di sisi lain, menjadi pembicara III, Nurul Istifadah lebih menuturkan peran perempuan dilihat dari sudut pandang ekonomi. Menurut dia, kunci keberhasilan suatu pembangunan adalah aspek ekonomi.
Tantangan Indonesia ke depan tidak mudah. Persaingan semakin ketat sehingga dari aspek leadership harus mampu menghadapinya. Dari sisi kemampuan, banyak perempuan yang memilikinya.
”Kita mulai melihat peran perempuan dengan arah yang lebih baik. Perempuan berpeluang bisa masuk bidang apa pun. Tidak hanya memiliki modal sosial dan institusional, tapi juga modal kapabilitas atau kompetensi yang baik,” ungkapnya.
Sementara itu, ditemui seusai acara, Presiden BEM FISIP UNAIR turut memberikan opininya terkait isu yang diangkat. Saat ini sangat banyak peran perempuan dalam dunia politik sekarang. Itu menjadi edukasi baru bagi mahasiswa bahwa sejauh ini, khususnya 2018, peran perempuan semakin masif dan signifikan. Bukan lagi sebatas peramai panggung demokrasi.
”Saya berharap seluruh mahasiswa aktif berpartisipasi dalam dunia politik dan sosial. Semua kompleksitas dunia luar tentang pandangan politik yang selama ini terjadi butuh peran kita bersama. Baik secara ekstemporan maupun penuh,” katanya. (*)
Penulis: Zanna Afia Deswari
Editor: Feri Fenoria Rifa’i





