Universitas Airlangga Official Website

FKM UNAIR Ajak Masyarakat Pahami Pentingnya Gizi dan Pendampingan Anak Down Syndrome

Dokumentasi bersama pemateri dan peserta bincang edukatif DSAM 2025. (Foto: Istimewa)
Dokumentasi bersama pemateri dan peserta bincang edukatif DSAM 2025. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Sebagai bentuk kontribusi nyata dalam rangka memperingati Down Syndrome Awareness Month (DSAM) 2025, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) ikut serta pada program pengabdian masyarakat kolaboratif yang diprakarsai oleh Pusat Informasi dan Kegiatan Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrom (PIK POTADS) Jawa Timur. Kegiatan yang mengusung tema Tumbuh, Berkembang, dan Bermakna itu menghadirkan bincang edukatif seputar down syndrome bersama pakar gizi dan psikologi UNAIR.

Kegiatan itu terselenggara pada Sabtu (18/10/2025) di Aula Sumarno, Gedung FKM, Kampus MERR-C, UNAIR. Dalam kesempatan tersebut, Dekan FKM UNAIR Prof Ratna Dwi Wulandari SKM MKes menyampaikan bahwa kegiatan ini perdana dilaksanakan, sehingga menambah warna baru terhadap bentuk pengabdian masyarakat di lingkungan FKM. 

“Sejujurnya kegiatan seperti ini sangat sejalan dengan visi-misi FKM maupun UNAIR bahwa kami sebagai institusi pendidikan punya tugas dan tanggung jawab yang lebih luas, bukan sekadar melaksanakan pendidikan, tetapi lebih dari itu. Melalui forum-forum seperti ini, harapan kami bisa berkontribusi lebih nyata bagi masyarakat di luar kampus,” ujarnya.

Lebih lanjut, Prof Ratna menilai bahwa kegiatan ini akan memberikan manfaat besar kepada orang tua anak down syndrome. Hal ini mengingat pola asuh anak down syndrome cenderung berbeda, sehingga memerlukan arahan khusus dari pakar yang telah mendalami bidang tersebut. 

“Saya rasa tidak menjadi halangan apapun itu. Setiap anak terlahir istimewa dan kita harus mengapresiasi, karena setiap anak pasti punya potensi,” tuturnya.

Bincang edukatif tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Prof Dr Sri Sumarmi SKM MSi dan Muryantinah Mulyo Handayani, MPsych (Ed & Dev). Pemateri pertama, Prof Sumarmi menjelaskan perihal makanan yang dapat memenuhi kebutuhan gizi anak dengan down syndrome

Prof Sumarmi menerangkan bahwa anak down syndrome rentan mengalami gangguan metabolisme dalam proses pengubahan glukosa dan lemak menjadi energi. Hal itu yang menjadi penyebab mereka memiliki kelainan mitokondria, tingkat stress oksidatif yang tinggi, dan gangguan insulin. 

“Proses pencernaan makanan anak dengan down syndrom itu lebih lambat dibandingkan dengan anak-anak lain. Karbohidrat dan lemak sering kali tidak terproses dengan baik, sehingga mengakibatkan anak rentan mengalami kegemukan,” jelasnya.  

Guru Besar FKM UNAIR itu mengingatkan agar orang tua selektif terhadap makanan yang akan diberikan kepada anak, seperti menghindari konsumsi karbohidrat, lemak, dan gula berlebihan. Konsumsi makanan yang kaya akan unsur Zn (Zinc), Se (Selenium), dan Ca (Calsium) lebih direkomendasikan oleh Prof Sumarmi.

Sementara itu, Muryantinah Mulyo Handayani, MPsych (Ed & Dev), menyampaikan cara menghadapi masa pubertas anak dengan down syndrome. Masa pubertas memicu perubahan yang signifikan terhadap anak, mulai dari kondisi biologis hingga pola pikir. Pubertas pada anak perempuan ditandai dengan menstruasi, sedangkan anak laki-laki melalui mimpi basah. Orang tua memiliki peran penting dalam mengenalkan tanda-tanda pubertas tersebut sedari awal. 

“Orang tua perlu menuntun anak memahami pubertas dengan mengenali bagian-bagian tubuh dan perubahannya. Selain itu, orang tua harus mengajarkan kepada anak untuk membedakan hal-hal yang sifatnya umum atau pribadi. Anak juga dilatih untuk menjaga kebersihan dan merawat tubuh. Tidak kalah penting, anak harus diberi pengertian mengenai daerah yang aman atau tidak untuk disentuh orang asing,” rincinya.

Pakar Psikologi UNAIR itu berpesan agar orang tua menggunakan bahasa yang konkret dan jelas ketika mengedukasi anak terkait pubertas. Dukungan visual dan role model akan lebih memudahkan anak dalam memahami hal-hal terkait pubertas.

Penulis: Selly Imeldha

Editor: Khefti Al Mawalia