UNAIR NEWS – Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) menyelenggarakan Kuliah Tamu bertajuk Empowering Academic and Public Health Impact pada Kamis (12/6/2025). Acara yang terbagi dalam dua sesi tersebut berlangsung secara hybrid, di Aula Sabdoadi, FKM, Kampus MERR-C UNAIR dan daring melalui Zoom Meeting.
Pada sesi kedua, kuliah tamu membahas mengenai implementasi pengendalian tembakau di Australia. Hadir sebagai pemateri, Prof Dr Muhammad Aziz Rahman MBBS MPH CertGTC GCHECTL PhD selaku Adjunct Professor FKM UNAIR, bersama dua mahasiswa PhD dari Federation University, Australia.
Tantangan Pengendalian Tembakau
Dalam pemaparannya, Prof Aziz menyampaikan bahwa Australia merupakan salah satu negara yang berhasil menurunkan angka perokok melalui berbagai kebijakan pengendalian tembakau. Saat ini, persentase perokok di Australia tercatat di bawah sepuluh persen. Kendati demikian, ia menjelaskan bahwa sejumlah tantangan masih perlu dihadapi.
“Rokok masih menjadi faktor risiko kedua terbesar terhadap beban penyakit, setelah obesitas. Di kalangan masyarakat dengan status sosial ekonomi rendah, angkanya bisa tiga kali lipat dari rata-rata nasional,” ungkapnya.
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah Australia menerapkan berbagai kebijakan, salah satunya adalah penggunaan plain packaging, kemasan rokok tanpa logo dan disertai peringatan grafis. Selain itu, pajak rokok terus dinaikkan demi membatasi akses. “Lebih dari dua pertiga perokok sebenarnya ingin berhenti. Di Australia ada Quitline, layanan telepon berhenti merokok, SMS dukungan, dan konseling dari tenaga kesehatan,” tambahnya.
Perilaku Merokok di Kalangan Dokter
Sementara itu, Masud Salehin MBBS Postgraduate Diploma in Health Economics MPH memaparkan hasil penelitiannya mengenai perilaku merokok dan praktik dukungan berhenti merokok pada kalangan dokter umum (General Practitioner/GP) di Australia. Data menunjukkan, sebagian besar GP mengaku merokok dengan alasan personal, seperti tekanan sosial, kecemasan, atau depresi.
“Ini menjadi dilema, karena nasihat berhenti merokok dari tenaga kesehatan sangat efektif bagi pasien, sementara WHO mengamanatkan bahwa tenaga kesehatan seharusnya menjadi contoh dengan tidak merokok. Meski sebagian besar dokter pernah mencoba berhenti merokok, tingkat motivasi mereka masih tergolong rendah,” ujarnya.
Tren Vaping dan Peran Tenaga Kesehatan
Menutup diskusi, Dr Naima Nimmi BDS MPH menyoroti tren penggunaan produk tembakau alternatif seperti vape. Menurutnya, rokok konvensional menurun, penggunaan vape terus meningkat di kalangan remaja. Sekitar satu dari lima warga Australia berusia 14 tahun ke atas pernah menggunakan vape, dan sepertiganya kemudian mencoba rokok konvensional.
Dalam risetnya, Dr Naima fokus pada peran tenaga kesehatan, khususnya GP dan dokter anak, sebagai sumber informasi terpercaya bagi remaja. “Kami melakukan scoping review pada ribuan artikel. Menurut kami, tenaga kesehatan butuh pelatihan terbaru soal vaping, strategi tindak lanjut yang lebih kuat, dan pedoman rujukan yang jelas. Mereka juga harus membiasakan menanyakan soal vaping dalam konsultasi rutin dengan remaja, sama seperti pertanyaan soal merokok,” imbuhnya.
Penulis: Fania Tiara Berliana Marsyanda
Editor: Khefti Al Mawalia





