UNAIR NEWS – Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga menggelar pelatihan bertajuk “Pendidikan Kesehatan K3, Demonstrasi, Evakuasi, dan Penatalaksanaan pada Korban Kebakaran” di Medokan Semampir, Kamis siang (4/1). Bertempat di Balai Kelurahan Medokan Semampir, kegiatan tersebut diikuti ibu rumah tangga dan pelaku industri rumahan yang sehari-hari beraktivitas dekat dengan api.
Lurah Medokan Semampir Supriono mengapresiasi pelaksanaan pelatihan tersebut. Menurut dia, pengetahuan tentang prosedur yang benar terkait dengan penanganan kebakaran sangat penting bagi ibu rumah tangga.
“Terutama bagi warga yang bertempat tinggal di lingkungan yang sempit,” ujarnya. “Sebab, mobil damkar (pemadam kebakaran, Red) tidak bisa masuk ke permukiman yang sempit. Panjang slangnya pun terbatas,” imbuhnya.
Supriono mengungkapkan, melalui pelatihan itu, peserta diharapkan mampu melakukan tindakan yang cepat dan tepat saat terjadi kebakaran. Selain itu, dia berterima kasih kepada UNAIR melalui FKp, dan Damkar Kota Surabaya atas pelatihan tersebut.
Dalam kegiatan itu, UNAIR dan Damkar Kota Surabaya memberikan pelatihan terkait dengan pertolongan pertama pada korban kebakaran. Yakni, soal pendidikan kesehatan dan evakuasi.
Penanggung jawab kegiatan Hidayat Arifin menjelaskan bahwa pelatihan itu terlaksana atas kerja sama UNAIR, terutama Program Pendidikan Profesi Ners (P3N) FKp bersama Kelurahan Medokan Semampir dengan Damkar Kota Surabaya. Dipraktikan penanganan kebakaran dengan menggunakan APAR (alat pemadam kebakaran api ringan) dan alat pemadam api tradisional.
“Sesuai dengan SOP (standar operasional prosedure, Red), di Surabaya, damkar harus berada di lokasi kebakaran tujuh menit setelah dihubungi. Karena itu, masyarakat harus tahu apa yang mesti dilakukan. Tidak hanya menjadi penonton,” katanya.
Selain itu, penggunaan odol dan mentega sering menjadi solusi masyarakat saat mengalami luka bakar. Padahal, hal itu secara medis tidak dianjurkan.
“Langkah baiknya, yakni menuangkan air bersih ke luka. Lalu dikompres dengan kain basah yang bersih,” tutur Hidayat. “Usahakan daerah luka bakar terus lembab,” imbuhnya.
Kepala Damkar Kota Surabaya Chandra Oratmangun dalam sambutannya menyatakan, sebagian besar kasus kebakaran disebabkan faktor manusia. Karena itu, masyarakat perlu mengetahui dan memahami prosedur dan tata cara penanganan kebakaran.
Selain itu, Chandra berharap para peserta menularkan pengetahuan dari pelatihan itu kepada masyarakat yang lain. Termasuk, masyarakat diminta lebih peduli dan tanggap terhadap segala potensi penyebab kebakaran.
“Pastikan mengecek jaringan listrik rumah setiap lima tahun sekali. Semoga Surabaya bebas dari kebakaran,” ujarnya.
Dr. Retno Indarwati, S. Kep., Ns., M. Kep., dari FKp UNAIR mengungkapkan bahwa perawat tidak hanya bertugas di dalam ruangan saat menangani pasien. Tugas memberikan kesiapan masyarakat terhadap bencana juga menjadi bagian peran perawat.
“Sekaligus, ini adalah bentuk pengabdian dan keterlibatan UNAIR dalam masyarakat. Terutama masyarakat Medokan Semampir dalam menghadapi kebakaran secara tepat, cepat, dan aman,” tuturnya.
Hadir dalam pelatihan tersebut, Dr. Retno Indarwati, S.Kep., Ns., M. Kes. dari FKp UNAIR; Lurah Medokan Semampir Supriono;Â Kepala Puskesmas Keputih Ari K. Nurdiyanti; dan Kepala Damkar Kota Surabaya Chandra Oratmangun. (*)
Penulis: Feri Fenoria
Editor: Binti Q. Masruroh





