Universitas Airlangga Official Website

FST Gelar Event Internasional ISSIMM 2017

UNAIR NEWS – Fakultas Sains dan Teknologi (FST) mengadakan event semunar dan konferensi internasional pada 25 sampai 26 Agustus 2017. Gelaran bertajuk The 2017 International Seminar on Sensors, Instrumentation, Measurement and Metrology itu bertema “Innovation for the Advancement and Competitiviness of the Nation”. Kegiatan itu didukung oleh sejumlah kampus seperti UI, ITB, ITS, UB, UGM, dan Himpunan Fisika Indonesia (HFI).

Para peneliti, ilmuwan, dosen, dan mahasiswa, yang berjumlah 115 orang dengan 76 makalah, dari dalam dan luar negeri menghadiri acara yang diadakan di dua tempat tersebut. Yakni, di aula Wyndham Hotel Surabaya, dan di kampus Universitas Airlangga. Sejumlah peserta asing berasal dari China, Thailand, Brazil, dan Jepang. Sedangkan mereka yang dari dalam negeri berasal dari kampus negeri dan swasta kenamaan tanah air.

Hadir sebagai Keynote Speaker Prof. Dr. Seiichu Ozawa (Kobe University, Jepang). Selain dia, ada pula sejumlah Invited Speakers, yakni Prof. Dr. Sulaiman Wadi Harun (UM, Malaysia), Prof. Dr.Eng. Khairurrijal (ITB, Indonesia), Prof. Dr. Jakrapong Kaewkhao (NPRU, Thailand), Prof. Dr. Tosawat Seetawan (SNRU, Thailand), Dr. Setyawan P. Sakti (UB, Indonesia), Dr Kuwat Triyana (UGM, Indonesia), Dr. Jong H. Chow (ANU, Australia). Hadir pula sebagai pembicara Prof. Dr. Moh. Yasin, Prof. Dr. Suhariningsih, dan Dr. Riries Rulaningtyas, yang ketiganya berasal dari UNAIR.

Dosen FST Andi Hamim Zaidan (paling kiri) menjadi moderator para Invited Speakers.

Dalam sambutannya, Ketua Panitia Prof. Dr. Retna Apsari, M.Si menyatakan, kegiatan ini adalah ajang untuk berbagi wawasan antar para ilmuwan atau peneliti di bidang fisika. Juga, sebagai media komunikasi dan diskusi antar peserta seminar dan konferensi. “Sebagaimana kita ketahui bersama, ilmu fisika ini bisa diaplikasikan di setiap lini kehidupan. Ilmu fisika dan instrumentasi tidak bersifat eksklusif bagi komunitasnya saja,” ungkap dia.

Wakil Rektor III bidang Riset dan Kerjasama Prof. Amin Alamsjah yang memberi sambutan setelahnya menyampaikan poin serupa. Dia mengatakan, event ini dapat menjadi jembatan antara peneliti, masyarakat, dan industri. Maksudnya, antar tiga elemen tadi, memiliki kaitan erat. Ilmu pengetahuan, imbuh Guru Besar Fakultas Perikanan dan Kelautan ini, harus bisa berkontribusi pada kemajuan suatu bangsa.

“Di era globalisasi, sebuah negara yang dalam masa transisi dari negara berkembang menuju negara maju, harus memiliki potensi IPTEK yang mumpuni,” ungkap dia.

Seminar dan konferensi internasional seperti ini, bakal membuka ruang diskusi dan kerjasama antar kampus atau institusi. Ada upaya saling menguatkan dan bertukar pikiran yang konstruktif. Sehingga, bisa turut andil dalam mencari solusi global.

Dalam kesempatan itu, Prof. Dr. Seiichu Ozawa menyampaikan presentasi tentang pemanfaatan teknologi sensor untuk optimalisasi bidang agrikultur. Dia memberi contoh penelitiannya di lahan kacang kedelai.

Dijelaskan lelaki yang memiliki lebih dari seratus lima puluh publikasi ilmiah ini, pemanfaatan sensor dan kamera bisa membuat kontrol terhadap pertumbuhan tanaman perkebunan atau persawahan lebih maksimal. Muaranya, strategi untuk percepatan dan pengembangan hasil dapat dilaksanakan secara simultan.

“Metode ini bisa dikembangkan sehingga pada suatu titik akan mampu merumuskan strategi penanaman, pembiakan, penyiraman, pemupukan, dan panen yang efektif dan efisien,” urai dia.

Dikatakan Seiichu Ozawa, aplikasi teknologi dalam pertanian tidak bisa dielakkan. Sebab, semakin hari, kebutuhan manusia akan hasil bumi dari sektor agrikultur makin banyak. Maka itu, teknologi harus jadi penopang utama semua metode agrikultur. (*)