n

Universitas Airlangga Official Website

Gading Ekapuja, Staf FKp yang Ikuti Academic Fellowship di Amerika

Event internasional
Gading Ekapuja Aurizki, S.Kep., Ns., (paling kanan) bersama peserta Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) Academic Fellowship disela acara. (Foto: Dokumen Pribadi)

UNAIR NEWS – Gading Ekapuja Aurizki, S.Kep., Ns., patut berbangga. Sebab, dia mendapatkan beasiswa penuh dari pemerintah Amerika Serikat untuk mengikuti Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) Academic Fellowship di University of Massachusetts (UMass), Amherst.

Gading yang merupakan staf di Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga, bersama dua puluh pemuda dari delapan negara di Asia Tenggara, mengikuti kuliah bertema ”Civic Engagement” itu selama lima pekan. Mulai 2 September hingga 8 Oktober 2017.

Bisa lolos dalam acara bergengsi tersebut tidaklah mudah. Gading mengakui bahwa seleksi program yang diinisasi Presiden Barack Obama itu sangat ketat dan kompetitif. Seleksi pemberkasan dan wawancaranya dilakukan Kedutaan Amerika Serikat di Indonesia beserta konsulat jendralnya.

”Sekitar seribu pemuda dari seluruh Indonesia, berusia 18–25 tahun, mendaftar dan hanya dua puluh lima orang yang terpilih,” tuturnya. ”Alhamdulillah, ini semua tak terlepas dari dukungan rekan-rekan di fakultas keperawatan,” imbuhnya.

Selama program, mantan wakil ketua BEM KM UNAIR 2014 tersebut diajak melihat langsung bagaimana masyarakat Amerika menyelesaikan berbagai permasalahan. Gading juga menjelaskan bahwa kuliah yang diikutinya bersama puluhan perwakilan dari negara-negara ASEAN berkutat seputar pemberdayaan masyarakat, kepemimpinan, kewarganegaraan, kebudayaaa, lingkungan, dan hak-hak sipil.

”Jadi, tujuan dari acara ini sebagai bentuk kerja sama USA dengan ASEAN. Alumni kegiatan itu nanti diharapkan dapat menjadi solusi untuk menyelesaikan masalah di negaranya masing-masing,” jelasnya.

Seusai mengikuti program, Gading mengungkapkan bahwa banyak hal yang bisa diterapkan di kampus. Metode pembelajaran yang baik, misalnya. Menurut dia, diskusi di kelas selama mengikuti program itu benar-benar berjalan, aktif.

”Di sana, dosen tidak hanya satu arah. Jadi, ada timbal balik dengan mahasiswa. Kalau di sini, sering kali kita terlalu bergantung kepada dosen,” terang Gading.

Pada akhir, dia mengungkapkan bahwa untuk membangun kemajuan dan menyelesaikan masalah bangsa, perubahan pola pikir menjadi hal yang mendasar yang ingin Gading terapkan. Dia juga menegaskan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki modal yang banyak untuk menjadi bangsa yang besar.

”Kita ini punya warisan budaya yang banyak, bahkan lebih banyak jika dibandingkan dengan Amerika. Hanya, kita harus tahu cara membangun Indonesia dari budaya yang kita miliki ini,” pungkasnya.

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Feri Fenoria