UNAIR NEWS – Minimnya informasi mengenai pekerjaan ramah lingkungan serta kurangnya integrasi data nasional mengenai green jobs menjadi perhatian tiga mahasiswa Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR). Pasalnya, mereka menyadari bahwa peluang green jobs sebenarnya terus berkembang. Namun, aksesnya belum merata dan kerap kali sulit ditemukan oleh para pencari kerja, terutama generasi muda.
Dari keresahan tersebut, lahirlah sebuah gagasan bertajuk Bridging the Gap Between Green Job Supply and Demand through EcoConnect.id: An Integrative Platform to Promote Accessibility and Job Opportunities in Achieving Indonesia’s Green Energy Transition. Ide tersebut mereka ajukan dalam UI SDGs Summit 2025 Essay Competition, sebuah kompetisi besutan BEM Universitas Indonesia (UI) yang puncaknya terselenggara pada Jumat hingga Sabtu (21-22/11/2025).
Ketiganya ialah Naylah RA Matondang, Nabila Deftya Zahra, dan Keiza Aulia Fidhya Sugianto. Melalui gagasan tersebut, mereka berhasil meraih juara dua dalam klaster Chamber Economic Growth, salah satu dari tiga klaster isu dalam kompetisi maupun.
Terbatasnya Akses dan Informasi
Naylah, selaku ketua tim, mengungkapkan bahwa ide tersebut muncul setelah ketiganya mengikuti sebuah forum ASEAN yang membahas mengenai perkembangan green jobs. Ketiganya lalu menyadari bahwa pembahasan green jobs di Indonesia ternyata masih minim, bahkan kurang terwakili. “Kami waktu itu bertanya-tanya, Indonesia ini sebenarnya di posisi mana? Kenapa jarang sekali muncul dalam diskusi green jobs?” ujarnya.

Tanpa pikir panjang, ketiganya memutuskan untuk meneliti lebih lanjut perihal situasi ketenagakerjaan di Indonesia. Khususnya terkait keterbatasan akses dan ketidakseimbangan informasi antara kebutuhan industri dengan para pencari kerja. Dari situlah EcoConnect.id muncul sebagai sebuah platform integratif yang menghubungkan pemerintah, sektor swasta, dan pencari kerja dalam bidang pekerjaan ramah lingkungan.
“Data green jobs di Indonesia itu sangat terbatas. Arsipnya tidak rapi, banyak informasi yang tidak diperbarui. Bahkan platform resmi pemerintah soal green jobs terakhir aktif sekitar dua tahun lalu,” jelasnya.
Rancang Prototipe Berbasis AI
Dalam pengembangan idenya, salah satu fitur utama EcoConnect.id adalah sistem pencocokan berbasis akal imitasi (AI). Melalui fitur ini, pengguna cukup mengunggah CV. Kemudian sistem akan membaca keterampilan yang dimiliki dan merekomendasikan jenis green jobs yang paling relevan.
Naylah dan tim memilih pendekatan teknologi ini karena dapat memangkas waktu dan meningkatkan akurasi pencarian pekerjaan. Kendati demikian, mereka mengakui bahwa penerapan AI membutuhkan perencanaan matang. “Juri sempat memberi catatan agar pengembangan AI-nya lebih diperdalam lagi sebelum benar-benar diimplementasikan,” imbuhnya.
Ke depan, mereka berharap konsep EcoConnect.id dapat berkembang lebih lanjut. Mengingat platform serupa sangat potensial menjadi jembatan antara pencari kerja dan industri hijau. “Kami ingin green jobs tidak hanya jadi istilah baru, tetapi benar-benar bisa membuka kesempatan bagi banyak orang. Kalau suatu saat prototipe ini bisa terwujud, kami yakin dampaknya akan besar, terutama bagi generasi muda yang sedang masuk dunia kerja,” pungkasnya.
Penulis: Fania Tiara Berliana M
Editor: Yulia Rohmawati





