Universitas Airlangga Official Website

Gandeng Indosat, DPKKA Siapkan Mahasiswa Hadapi Dunia Kerja

Lisa Qonita, SPV Head of People and Culture Indosat Ooredoo Hutchison saat membawakan materi dalam Career Preparation Talkshow yang digelar di Auditorium Ternate, ASEEC Tower Universitas Airlangga (Foto: Dok. Reporter)
Lisa Qonita, SPV Head of People and Culture Indosat Ooredoo Hutchison saat membawakan materi dalam Career Preparation Talkshow yang digelar di Auditorium Ternate, ASEEC Tower Universitas Airlangga (Foto: Dok. Reporter)

UNAIR NEWS – Memasuki dunia kerja tidak selalu tentang hal yang instan dan mulus. Proses jatuh-bangun, mencoba, hingga mengalami kegagalan merupakan bagian penting dalam perjalanan karier. Hal ini disampaikan oleh SPV Head of People and Culture Indosat Ooredoo Hutchison Lisa Qonita dalam sesi Career Preparation Talkshow. Talkshow tersebut terselenggara dalam rangkaian INSPIRE Career Week 2025 di Auditorium Ternate, Lt.1 ASEEC Tower Kampus Dharmawangsa-B UNAIR, Rabu (4/6/2025).

Acara ini merupakan kerja sama antara Direktorat Pengembangan Karier, Inkubasi Kewirausahaan, dan Alumni (DPKKA) Universitas Airlangga (UNAIR) dengan Indosat Ooredoo Hutchison melalui kampanye Simpel itu IM3 dan platform NATION Talent Lab. Tujuannya adalah untuk mendorong mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan serta kesiapan menghadapi dunia kerja.

Dalam materinya, Lisa Qonita mengawali dengan cerita personal seputar perjalanan kariernya yang penuh liku. Meskipun berasal dari latar belakang pendidikan komunikasi, ia tak ragu untuk menjelajahi berbagai profesi di luar bidangnya.

“Dulu saya lulusan komunikasi, tapi saya pernah kerja di dunia banker, marketing, bahkan jadi wartawan dan penyiar radio. Sampai akhirnya saya tahu, this is what I want, dan saya memilih untuk serius berkarier di dunia HR (human resource, red),” ungkapnya dalam INSPIRE Career Week.

Lisa menekankan pentingnya keberanian untuk mencoba, sekalipun belum memahami sepenuhnya bidang yang ingin dicoba. “Jangan takut gagal, jangan takut tidak perform. Karena ketika kita yakin bisa, alam semesta akan membantu kita mencapainya,” pesannya.

Ia juga mengajak mahasiswa untuk tidak terjebak dalam narasi perbandingan sosial. Menurutnya, membandingkan diri dengan orang lain hanya akan memperbesar rasa tidak percaya diri. “Jangan pernah membandingkan diri dengan orang lain. Fokus saja pada versi dirimu yang kemarin, dan pastikan hari ini kamu melangkah lebih jauh dari itu,” ujarnya tegas.

Salah satu bagian inspiratif dari sesi tersebut adalah kisah Lisa yang sempat mengambil career break selama delapan tahun untuk fokus pada keluarganya. Ia sempat merasa tertinggal jauh dari rekan-rekan seangkatannya, namun kemudian menyadari bahwa setiap pilihan hidup punya waktunya sendiri.

Lisa juga menyinggung realita ketatnya persaingan kerja saat ini. Ia menyampaikan data bahwa dari 1,8 juta lulusan sarjana setiap tahun, hanya sekitar 300-400 ribu lapangan kerja yang tersedia. “Kondisi ini menuntut kita untuk berpikir kreatif. Tidak harus selalu menjadi pencari kerja, kita juga bisa menciptakan lapangan kerja sendiri,” tegasnya.

Lebih lanjut, Lisa menyampaikan pentingnya keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Sebagai contoh nyata, Lisa membagikan pengalamannya mendirikan sekolah bagi anak-anak yang kurang mampu, meski sebelumnya ia bekerja di perusahaan multinasional yang sangat kapitalistik.

Ia juga pernah dipaksa keluar dari comfort zone-nya untuk menulis buku, padahal ia merasa lebih nyaman berbicara dibanding menulis. Namun ketika akhirnya mencoba dan memulai, proses menulis itu pun berhasil ia selesaikan. “Keluar dari comfort zone memang tidak nyaman. Tapi dari situlah kita tahu, kita mampu melakukan hal-hal luar biasa yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan,” pungkasnya.

Penulis: Ameyliarti Bunga Lestari

Editor: Yulia Rohmawati