UNAIR NEWS – Mengusung judul MELALI SARENG KELOR: Pemanfaatan Tourism Experience Economy Dalam Penguatan Cultural Branding Mie Kelor GUD, tim mahasiswa Fakultas Ekonomi dan bisnis (FEB) UNAIR berhasil mendapat Juara I Marketing Plan Competition. Kompetisi tersebut merupakan rangkaian Creativepreneur Festival Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Sabtu (13/12/25).
Anggota tim tersebut terdiri dari Ni Putu Elsa Nitania Putri, Fransisca Andini C P, Hera Audita R, dan Fathiq Hafsa N, yang tergabung dalam Tim BlackPong. Tim tersebut menjadikan Mie Kelor GUD sebagai UMKM collaborator karena memiliki Unique Selling Proposition namun masih memiliki masalah pemasaran.
Salah satu anggota tim, Sisca, menyatakan bahwa di Bali, daun kelor sering dikonsumsi dalam bentuk sayur dan minuman kesehatan. “UMKM tersebut dirasa cocok dengan tema kompetisi, yakni culturepreneurship. Karena menggunakan bahan alami dari daun kelor yang merupakan tanaman lokal dalam pembuatan mie tanpa pengawet, tanpa penyedap, dan tanpa pengenyang,” jelasnya.
Proses Panjang
Perjalanan kompetisi Tim BlackPong cukup panjang. Di awal, tim melakukan perizinan dan diskusi dengan pemilik UMKM terkait masalah dari Mie Kelor Gud. “Kemudian, tim melakukan brainstorm untuk menganalisis pasar dan bisnisnya yang bertujuan melihat posisi dari Mie Kelor Gud. Sehingga ditemukan masalah dan solusi yang bisa ditawarkan,” tuturnya.

Berdasarkan data, Tim BlackPong membuat target pasar dan penjualan yang ambisius tapi tetap realistis. Disertai short and long term goals berdasarkan tujuan yang ingin pemilik Mie Kelor Gud capai. Dari proses panjang tersebut, akhirnya Tim BlackPong menciptakan strategi pemasaran yang relevan melalui marketing mix.
Menurut Sisca, saat anggota tim saat mengunjungi tempat usaha, mereka menemukan bahwa Mie Kelor Gud memiliki posisi yang strategis. Hal tersebut karena rumah produksinya berada di jalur wisata. “Rumah produksi yang merupakan rumah pribadi pemilik usaha juga memiliki nilai tarik sendiri. Sehingga kami bisa menciptakan strategi berbasis tourism experience economy yang mengedepankan education, experience, escapism, dan esthetics,” imbuhnya.
Tantangan Strategi
Pemilik usaha Mie Kelor Gud, I Wayan Sumerta Yasa atau Pak Mokoh, merupakan pecinta seni dan budaya. Sehingga, strategi Tim BlackPong dalam menekan biaya pemasaran dilakukan dengan cara mengkolaborasikan apa yang sudah ada dengan tetap memperhatikan pemberdayaan masyarakat sekitar dan pelestarian lingkungan.
Menurut Sisca beserta tim, kompetisi ini menjadi jembatan dalam mengimplementasikan minat di bidang pemasaran sesuai dengan masalah yang dialami oleh UMKM collaborator. Meski cara menentukan strategi pemasaran yang optimal, efektif, dan efisien menjadi tantangan, tim mampu meminimalisir risiko dengan memperhatikan strategi pemasaran pendukung dan kerjasama dengan pihak lain,” pungkasnya.
Penulis: Uswatun Khasanah
Editor: Yulia Rohmawati





