Gangguan kognitif merupakan masalah serius bagi lansia karena menyebabkan terjadinya penurunan kinerja pada tugas-tugas kognitif utamanya saat mengambil keputusan akibat adanya keterlambatan terhadap pemrosesan, kerja memori dan fungsi kognitif eksekutif. Masalah yang selalu menyertai lansia ini identik dengan penyakit Alzhaimer yang diakibatkan oleh dimensia vaskuler. Laporan World Alzheimer, lebih dari 46 juta orang hidup dengan demensia pada tahun 2015, dan diperkirakan meningkat mencapai 131,5 juta pada tahun 2050. Mengatasi gangguan kognitif ini dapat meningkatkan kemampuan mendengar, persepsi bicara, dan memainkan peranan yang penting dalam mewujudkan kerja kognitif, agar lansia terhindar dari ketergantungan fungsional dan mendapatkan peningkatan kualitas hidup yang lebih baik.
Ini ditunjukkan dengan keterlibatan lansia dalam lingkungan masyarakat yang menjadi indikator utama terhadap kesehatan lansia, dan kebutuhan kontak sosial yang lebih sering menjadi sangat penting untuk menghindari masalah psikososial bagi lansia, menghindari kesepian dan keinginan bunuh diri, meskipun beberapa lansia sering mengalami kendala komunikasi dalam berinteraksi, sehingga lansia dalam melakukan kontak dengan orang lain masih membutuhkan bantuan untuk menjaga suasana emosi yang lebih stabil. Namun bila lansia hidup dengan selalu mengisolasi diri, akan meningkatkan respon emosional seperti cemas dan depresi, dimana masalah ini menjadi masalah yang serius dalam keluarga, dan dikemudian hari dapat memperburuk cadangan kognitif. Selain itu kondisi ini menjadikan lansia rentan terhadap penyakit degenerative oleh karena kurang gerak dan hiburan, dan menurunkan kualitas hidup mereka.
Aspek interaksi sosial yang meliputi kontak sosial dan komunikasi memainkan peranan penting terhadap status fungsional kognitif. Kontak yang lebih sering dilakukan lansia yang dikaitkan dengan upaya menjaga status kognitif fungsional. Upaya yang biasa dilakukan oleh lansia di masyarakat ikut berpartisipasi terhadap kegiatan sosial maupun berkumpul dengan keluarga dan kerabat dekat, menggunakan media social maupun latihan fisik yang terprogram, baik melakukan kegiatan yang kecil-kecil, olah raga teratur maupun melakukan aktifitas sehari-hari yang terjadwal. Selain itu berkumpul dengan orang banyak sekaligus merupakan upaya untuk melestarikan budaya Jawa yang senang berkumpul dengan orang. Motto DEMEN NGUWONGNO WONG dan DEMEN KUMPUL WONG merupakan manifestasi dari upaya “uri-uri budoyo jowo” yang kuat dengan kekerabatan. Bagi lansia dengan berkumpul sesama lansia bisa mengorek masa lalu yang terpendam, berceritera tentang pengalaman masa lalunya, tentang perjuangan, karena lansia mempunyai karakteristik kuat yang dapat mengingat masa lalu dari pada saat ini.
Therapy reminiscence untuk mengumpulkan kembali memori-memori seseorang pada masa lalu. Memori tersebut dapat merupakan suatu peristiwa yang mungkin tidak bisa dilupakan atau peristiwa yang sudah terlupakan yang dialami langsung oleh individu. Kemudian memori tersebut dapat sebagai kumpulan pengalaman pribadi atau “disharingkan” dengan orang lain. Sementara itu aspek komunikasi yang dikaitkan dengan upaya menjaga status kognitif fungsional dilakukan dengan upaya memahamkan dan mengertikan orang lain terhadap arti dan makna yang diucapkan. Upaya yang dilakukan mulai dari menggunakan ukuran tulisan kata yang lebih besar dan jelas sering dilakukan lansia dalam menyampaikan isi pikirannya, dan menggunakan isyarat-isyarat penting melalui bahasa nonverbal sering dilakukan dengan harapan lawan bicara bisa mengerti, mau mendengar dan memperhatikan apa yang diucapkan. Kegagalan dalam aspek komunikasi, kalau sering dialami lansia meningkatkan risiko kesalahan persepsi maupun gagal paham.
Namun pada lansia, kemampuan interaksi social yang terdiri dari kontak social dan komunikasi tidak bisa dijalankan dengan baik oleh karena kemampuan kognitif setiap lansia yang berbeda-beda, Dengan demikian, berkumpul dengan orang lain sangat penting dilakukan, tidak hanya mempertahankan budaya jawa yang toleran dan hidup rukun, tetapi juga sekaligus memelihara fungsi kognitif yang lebih baik. Pada penelitian dapat disimpylkan bahwa lansia membutuhkan lingkungan yang mendukung interaksi sosial untuk menghindari penurunan kognitif sehingga mereka perlu menyediakan fasilitas yang dapat digunakan oleh lansia untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan sesama lansia.
Penulis : Abd. Nasir
Artikel lengkapnya dapat diakses melalui link jurnal berikut ini: https://www.psychosocial.com/article/PR270923/19324/ The Relationship between Cognitive Function and the Ability of Social Interaction in the Elderly in Gresik





