Pada Minggu, 18 Januari 2026, suasana Desa Tajung Widoro terasa penuh semangat perubahan. Sejak pukul 10.00 WIB, mahasiswa yang tergabung dalam Tim BBK 7 menggelar kegiatan bertajuk “GEBRAK” (Gerakan Ekonomi Berbasis Bandeng), sebuah program kerja unggulan di pilar ekonomi yang dirancang untuk menjawab tantangan utama para pembudidaya dan pelaku usaha di desa tersebut. Sebagai desa yang dianugerahi kekayaan alam berupa ikan bandeng yang melimpah, Desa Tajung Widoro memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Namun, melimpahnya hasil panen seringkali menjadi kendala tersendiri ketika pasar sedang jenuh; ikan segar yang tidak segera laku terjual sangat rentan membusuk, menurunkan kualitas, hingga akhirnya terbuang percuma dan merugikan para petambak.
Melihat kondisi tersebut, Tim BBK 7 hadir dengan solusi inovatif melalui diversifikasi produk olahan. Dalam program GEBRAK, mahasiswa tidak hanya mengajak warga memanen, tetapi juga melatih mereka mengolah ikan bandeng menjadi varian kuliner kekinian yang digemari berbagai kalangan, yaitu jajanan sempol bandeng, bakso bandeng, dan otak-otak bandeng goreng. Langkah ini diambil dengan tujuan strategis: mengubah ikan segar yang mudah busuk menjadi produk olahan yang memiliki daya simpan lebih lama (shelf-life) dan nilai ekonomis yang jauh lebih tinggi. Dengan bentuk olahan seperti ini, distribusi penjualan tidak lagi terbatas pada pasar tradisional di sekitar desa, tetapi dapat menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk potensi untuk dipasarkan sebagai produk makanan beku (frozen food) ke luar daerah.
Namun, Tim BBK 7 menyadari bahwa produk yang berkualitas harus didukung oleh manajemen bisnis yang kokoh agar usaha dapat bertahan. Oleh karena itu, sesi pelatihan juga difokuskan pada aspek manajerial yang sering diabaikan oleh pelaku UMKM desa, yaitu pemahaman tentang Harga Pokok Penjualan (HPP) dan Break Even Point (BEP). Edukasi ini sangat krusial untuk mengubah pola pikir warga dari sekadar “dagang” menjadi “berbisnis”, memastikan mereka mampu menetapkan harga jual yang kompetitif namun tetap menguntungkan, serta mengetahui target penjualan minimal untuk balik modal.
Melengkapi modernisasi usaha tersebut, Tim BBK 7 juga memfasilitasi pembuatan QRIS bagi para pelaku UMKM. Hal ini merupakan langkah taktis untuk membawa ekonomi desa beradaptasi dengan era pembayaran digital, memudahkan transaksi, serta meningkatkan kredibilitas usaha di mata konsumen modern. Antusiasme warga terlihat sangat tinggi sepanjang acara yang berlangsung hingga pukul 12.00 WIB ini. Melalui GEBRAK, Tim BBK 7 optimis bahwa perpaduan antara inovasi produk olahan yang lezat dan manajemen bisnis yang modern akan menjadi kunci bagi Desa Tajung Widoro untuk bangkit menjadi desa mandiri dengan ekonomi yang berkelanjutan.





