UNAIR NEWS – Beberapa waktu yang lalu rame di media sosial TikTok citizen melakukan kritik pada pembangunan infrastruktur oleh pemerintah daerah. Penggunaan tagar #BimaEffect dimulai dari seorang tiktokers dengan username @awbimaxreborn1 yaitu pemilik akun bernama Bima Yudho yang memberikan kritik pedas terhadap salah satu jalanan yang ada di Lampung. Ramainya kritikan itu bahkan membuat Presiden RI melakukan kunjungan ku Lampung beberapa waktu yang lalu.
Media Activism
Dosen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Nisa Kurnia Illahiati SSos MMedKom menanggapi fenomena tersebut. Menurutnya, saat ini muncul tren ajakan untuk lebih berani bersuara dan mengambil peran sebagai masyarakat dalam kehidupan yang berdemokrasi. Tren yang sedang viral itu dinilai jauh lebih baik dari pada sekadar tren mandi lumpur yang tidak memiliki konteks yang jelas.
“Akhirnya menimbulkan masyarakat untuk mulai peka. Bentuk social movement yang tumbuh dari tagar dan trend viral. Apa yang Bima lakukan, in a way termasuk media activism,” jelas Nisa yang sedang melanjutkan studi media di Melbourn University, Rabu (10/5/2023).
Muncul Tren Baru
Nisa menambahkan bahwa tren baru yang sedang viral dan diikuti netizen itu bisa memberikan bentuk keikutsertaan masyarakat digital yang lebih baik. Tren tersebut bisa menjadi wadah masyarakat mengeluhkan permasalahan umum yang ada di setiap daerah. Tujuannya, agar lebih mudah tersampaikan kepada pimpinan daerah.

“Menurut saya ini jauh lebih baik, dari pada mandi lumpur dan video ini memunculkan tren. Social media membuat orang dengan mudah terkenal. Salah satunya bentuk riding a waves yaitu mengikuti konten viral, walaupun belum tentu tujuannya bukan untuk viral. Viral itu capital, kalau kita bisa maintenance viral dengan baik,” jelas Nisa perihal penggunaan media sosial TikTok.
Menyampaikan Pendapat di Media Sosial
Nisa menjelaskan bahwa pilihan bersuara di media sosial juga harus mempertimbangkan risiko setelahnya. Terlebih dalam hal menyampaikan pendapat ke pemerintahan yang relatif sebelum itu harus ada pengetahuan yang matang akan regulasi dan data yang ada.
“Semua orang punya moral compas masing masing. Menurut orang lain itu masing masing. Etika menjadi relatif in a way. Penggunaan bahasa dan intonasi itu tidak mudah diterima oleh generasi baby boomer, dan sebaliknya justru diterima dengan baik oleh gen Z,” jelas Nisa. (*)
Penulis : Satriyani Dewi Astuti
Editor : Binti Q Masruroh





