Universitas Airlangga Official Website

Gel dari Sel Punca Gigi Anak, Harapan Baru Percepatan Penyembuhan Tulang Rahang

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Pencabutan gigi merupakan salah satu tindakan paling umum dalam pelayanan kedokteran gigi. Namun, prosedur ini bukan tanpa konsekuensi biologis. Setelah gigi dicabut, tulang alveolar—tulang yang berfungsi menopang gigi—akan mengalami proses penyembuhan yang kompleks dan dinamis. Dalam banyak kasus, proses ini justru diikuti oleh penyusutan tulang yang signifikan, baik secara horizontal maupun vertikal, terutama pada minggu-minggu awal pasca pencabutan.

Kehilangan tulang alveolar menjadi tantangan besar dalam rehabilitasi gigi, khususnya pada perawatan berbasis implan dan prostodonsia. Penyusutan tulang yang tidak terkendali dapat mengurangi stabilitas implan, memperpanjang waktu perawatan, serta meningkatkan kebutuhan tindakan bedah tambahan. Oleh karena itu, berbagai pendekatan terus dikembangkan untuk menjaga volume tulang dan mempercepat penyembuhan jaringan keras setelah pencabutan gigi.

Secara biologis, penyembuhan tulang alveolar sangat ditentukan oleh keseimbangan antara dua jenis sel utama, yaitu osteoblas dan osteoklas. Osteoblas bertanggung jawab dalam pembentukan dan mineralisasi tulang baru, sementara osteoklas berperan dalam perombakan tulang lama. Keduanya bekerja secara terkoordinasi melalui proses remodeling tulang. Namun, pada fase awal pasca pencabutan, aktivitas osteoklas sering kali lebih dominan, sehingga resorpsi tulang terjadi lebih cepat dibandingkan pembentukan tulang baru.

Menjawab permasalahan tersebut, sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Brazilian Dental Journal mengkaji potensi pendekatan regeneratif berbasis gel sekretom SHED untuk mempercepat penyembuhan tulang alveolar. SHED (Stem Cells from Human Exfoliated Deciduous Teeth) merupakan sel punca mesenkimal yang berasal dari gigi sulung manusia. Sel punca ini dikenal memiliki kemampuan proliferasi tinggi serta potensi osteogenik yang baik.

Berbeda dengan terapi berbasis transplantasi sel punca, penelitian ini menggunakan sekretom, yaitu kumpulan molekul bioaktif yang disekresikan oleh sel punca, seperti faktor pertumbuhan, sitokin, kemokin, dan vesikel ekstraseluler. Pendekatan ini dikenal sebagai terapi bebas sel (cell-free therapy), yang dinilai lebih aman dan praktis karena tidak melibatkan sel hidup. Risiko penolakan imun, tumorigenesis, serta rendahnya viabilitas sel dapat diminimalkan, sementara efek regeneratif tetap dipertahankan melalui mekanisme parakrin.

Dalam penelitian ini, sekretom SHED diformulasikan dalam bentuk gel berbasis hidrogel, sehingga memungkinkan aplikasi langsung ke dalam soket bekas pencabutan gigi. Bentuk gel berfungsi sebagai pembawa (carrier) sekaligus reservoir yang menjaga stabilitas dan pelepasan bertahap zat bioaktif di lokasi luka. Selain itu, sifatnya yang mudah dibentuk dan minimal invasif menjadikannya relevan untuk aplikasi klinis di bidang kedokteran gigi.

Penelitian dilakukan menggunakan model hewan coba tikus (Rattus norvegicus), yang sering digunakan dalam studi penyembuhan tulang karena memiliki karakteristik remodeling tulang yang relatif mirip dengan manusia. Hewan coba dibagi ke dalam tiga kelompok: kelompok kontrol negatif yang menerima gel placebo, kelompok kontrol positif dengan bahan standar klinis, dan kelompok perlakuan yang menerima gel sekretom SHED. Evaluasi dilakukan pada hari ke-7 pasca pencabutan, fase penting ketika proses inflamasi mulai beralih menuju pembentukan jaringan tulang baru.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang mendapatkan gel sekretom SHED memiliki jumlah osteoblas yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas pembentukan tulang. Menariknya, jumlah osteoklas pada kelompok ini juga meningkat secara bermakna. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa gel sekretom SHED tidak sekadar menekan resorpsi tulang, tetapi justru mendorong proses remodeling tulang yang aktif dan seimbang.

Secara histologis, jaringan tulang pada kelompok perlakuan tampak lebih terorganisasi dengan pembentukan matriks tulang yang lebih matang. Kondisi ini mencerminkan percepatan fase penyembuhan awal, di mana aktivitas pembentukan dan perombakan tulang berlangsung secara terkoordinasi. Dengan demikian, peningkatan osteoklas dalam konteks ini dipandang sebagai bagian dari proses fisiologis normal, bukan sebagai tanda kerusakan jaringan.

Temuan ini memperkuat konsep bahwa regenerasi tulang yang optimal tidak hanya bergantung pada peningkatan osteoblas, tetapi juga pada pengaturan aktivitas osteoklas secara proporsional. Gel sekretom SHED tampaknya mampu menciptakan lingkungan mikro yang kondusif bagi komunikasi antar sel, sehingga keseimbangan biologis selama penyembuhan dapat terjaga.

Dari perspektif translasi klinis, hasil penelitian ini membuka peluang besar bagi pengembangan biomaterial regeneratif berbasis sekretom di bidang kedokteran gigi. Gel sekretom SHED berpotensi diaplikasikan sebagai bahan socket preservation pasca pencabutan gigi, guna mempertahankan volume tulang alveolar dan mempersiapkan kondisi optimal sebelum pemasangan implan. Pendekatan ini sejalan dengan arah pengembangan kedokteran regeneratif modern yang mengedepankan terapi biologis yang aman, efektif, dan mudah diaplikasikan.

Meski demikian, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas jangka panjang, dosis optimal, serta keamanan penggunaan pada manusia. Namun, studi ini memberikan bukti awal yang kuat bahwa gigi sulung—yang selama ini sering dipandang sebagai limbah biologis—dapat menjadi sumber inovasi penting dalam regenerasi jaringan keras.

Dengan memanfaatkan potensi sekretom dari sel punca gigi anak, penelitian ini menghadirkan harapan baru bagi pengembangan terapi pasca pencabutan gigi yang lebih fisiologis, efisien, dan berkelanjutan. Inovasi ini tidak hanya relevan bagi dunia akademik, tetapi juga berpotensi memberikan dampak nyata dalam praktik klinis kedokteran gigi di masa depan.

Sumber Artikel

Article Title: SHED-Secretome Gel Promotes Early Alveolar Bone Healing via Osteoblast–Osteoclast Modulation

Summary Title: SHED Secretome in Bone Healing

Nikmatus Sa’adah¹,²,*, Indeswati Diyatri³,⁴, Mohammed Ahmed Aljunaid⁵, Agus Aan Adriansyah⁶, Huda Rashad Qaid⁷, Raed Labib⁸, Rini Devijanti Ridwan³,⁴

¹ Doctoral Study Program, Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia

² Department of Biomedic, Faculty of Dental Medicine, Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata, Kediri, Indonesia

³ Research Center, Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia

⁴ Department of Oral Biology, Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia

⁵ Department of Oral and Dental Medicine, Faculty of Medicine, Taiz University, Taiz, Yemen

⁶ Department of Public Health, Faculty of Health, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, Surabaya, Indonesia

⁷ Faculty of Oral and Dental Medicine, Al-Saeed University, Taiz, Yemen

⁸ Department of Oral Surgery, Faculty of Dental Medicine, 21 September University of Medical and Applied Sciences, Sana’a, Yemen

Penulis: Prof. Dr. Indeswati Diyatri, drg., M.S.

Link: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12696812/