UNAIR NEWS – Langganan mengikuti kompetisi di berbagai universitas, baik dalam maupun luar negeri, membuat Nur Pratama Abdi Muhammad berhasil dinobatkan sebagai wisudawan berprestasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga periode September 2018. Berbagai gelar sukses diraih mahasiswa asal Sidoarjo tersebut.
Sejak masuk kuliah tahun 2014, berbagai prestasi Pratama raih. Di antaranya, Most Outstanding Delegate Asia-Pacific Model United Nations (AMUNC) 2018 yang diadakan di University of New South Wales, Sydney, Australia; dan dua kali meraih Best Delegate di MUN tingkat nasional.
Selain itu, Pratama juga sukses menyabet gelar Second Runner-up English Fiesta Debating Competition yang diadakan di Universitas Muhammadiyah Malang tahun 2016, Semi Finalist National University Debating Championship (NUDC) yang diadakan Kemristekdikti tahun 2016, dan banyak penghargaan lainnya.
“Kecintaan saya pada kompetisi tumbuh mulai dari kelas 2 SMA. Sehingga mulai tahun pertama kuliah, saya aktif mengikuti English Debate Competition, baik di tingkat regional maupun nasional,” ujar Pratama.
Menurut Pratama, hal yang paling sulit selama masa studi adalah menyeimbangkan kewajiban untuk mendapatkan IPK yang tinggi dan mengembangkan diri dalam softskills. Tidak jarang, Pratama bolos kuliah untuk mengikuti kompetisi atau kegiatan pengembangan diri. Akibatnya, ia harus bekerja ekstra keras untuk mengejar ketertinggalan pelajaran di kelas. Tidak sia-sia, Pratama berhasil meraih IPK nyaris sempurna dengan nilai 3,91.
“Untuk saat ini Alhamdulillah saya sudah diberi kesempatan untuk meniti karir di salah satu Big 4 Accounting Firms terhitung mulai 12 September lalu,” tambahnya.
Di samping itu, saat ini Pratama sedang membantu proses perampungan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) baru yaitu UKM Debat Universitas Airlangga atau Airlangga Debating Society (ADS) yang sudah berdiri sejak November 2017. Dirinya berharap, hal tersebut menjadi kontribusi yang akan terus bermanfaat bagi UNAIR setelah ia lulus.
Pratama berpesan, khususnya untuk mahasiswa UNAIR, adalah mahasiswa perlu menyadari bahwa IPK yang tinggi bukanlah suatu pencapaian, namun sebuah kewajban. Untuk itu, harus diwujudkan semaksimal mungkin karena telah memilih jalan sebagai mahasiswa.
“Tetapi kita harus sadar bahwa IPK hanya fragmen kecil dari big picture bagaimana kita dinilai di masyarakat. Oleh karena itu ada banyak komponen yang harus dikembangkan, yaitu softskills,” tambahnya. (*)
Penulis: M. Najib Rahman
Editor: Binti Q. Masruroh





