Universitas Airlangga Official Website

Green Paper Jadi Cara Tim BBK 7 UNAIR Kenalkan Praktik Daur Ulang

Tim BBK 7 UNAIR bersama siswa SDN Bandungan 02 kelas 4 dan 5 (Foto: Istimewa).
Tim BBK 7 UNAIR bersama siswa SDN Bandungan 02 kelas 4 dan 5 (Foto: Istimewa).

UNAIR NEWS – Demi wujudkan aksi pengelolaan sampah, tim mahasiswa program Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 Universitas Airlangga (UNAIR) menghadirkan kegiatan Green Paper bagi siswa SDN Bandungan 02 kelas 4 dan 5. Kegiatan itu terlaksana pada Rabu (21/1/26). Tujuan dari kegiatan itu sebagai upaya menanamkan kesadaran pengelolaan sampah kepada anak-anak sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Dalam pelaksanaanya, para siswa mendapat edukasi mengenai jenis sampah serta pentingnya daur ulang kertas. Setelah sesi pemaparan, kegiatan kemudian berlanjut dengan praktik Green Paper, yakni mengolah kertas bekas menjadi kertas daur ulang bersama tim mahasiswa BBK. 

Atasi Persoalan Sampah

Salwa Nur Azizah sebagai ketua pelaksana kegiatan, menjelaskan bahwa program Green Paper ini berangkat dari persoalan sampah di desa serta minimnya keterlibatan langsung siswa sekolah dasar dalam praktik daur ulang.

“Awalnya kami melihat bahwa di SD ini belum pernah ada program kerja yang melibatkan adik-adik secara langsung dalam kegiatan daur ulang. Bahkan, kepala desa juga menyampaikan bahwa persoalan utama di desa adalah sampah. Dari situ kami memulainya dari generasi sekolah dasar,” ujar Sasa, sapaan dekatnya. 

Menurut Sasa, meskipun sebagian siswa telah mengetahui konsep daur ulang, praktik langsung memberikan pengalaman yang jauh lebih bermakna. Melalui kegiatan tersebut, siswa dapat memahami bahwa sampah yang mereka jumpai sehari-hari dapat diolah kembali menjadi barang yang berguna.

Kenalkan Praktik Daur Ulang

Lebih lanjut, program Green Paper ini berupaya mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada konsumsi bertanggung jawab serta pendidikan lingkungan. Sasa menilai edukasi lingkungan menjadi sangat penting karena belum semua siswa memahami konsep dasar pengelolaan sampah seperti 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

“Anak-anak sebenarnya sudah bersentuhan langsung dengan problem lingkungan, terutama sampah anorganik yang mereka gunakan setiap hari. Momentum ini kami manfaatkan untuk masuk membawa materi pengelolaan sampah agar mereka tidak hanya bermain, tetapi juga belajar bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan,” jelasnya.

Pemilihan metode bubur kertas, sambungnya, mampu membangun pola pikir siswa. Melalui praktik tersebut, siswa memahami bahwa sampah bukanlah akhir dari sebuah benda, melainkan dapat memiliki nilai guna baru. “Bubur kertas mungkin masih asing bagi mereka, sehingga antusiasmenya luar biasa. Mereka berlomba-lomba dan bekerja sama,” kata Sasa.

Ajarkan Kolaborasi dalam Lingkungan

Selain edukasi lingkungan, Sasa juga menyebut kegiatan ini turut menanamkan nilai kerja sama, problem solving, dan kepemimpinan. Siswa dari kelas 4 dan 5 terbagi dalam kelompok campuran, sehingga mereka belajar berkolaborasi dengan teman yang berbeda.

Melalui kegiatan Green Paper, Sasa berharap program ini tidak berhenti sebagai agenda sesaat. “Harapannya, program ini menjadi langkah awal. Kami ingin guru-guru dapat melanjutkan dan menggali kreativitas siswa dengan bahan dan alat yang sudah kami berikan. Lingkungan sekitar membutuhkan peran mereka, dan kami ingin ada hasil yang berkelanjutan meskipun kami sudah selesai BBK,” pungkas Sasa. 

Penulis: Nur Khovivatul Mukorrobah

Editor: Ragil Kukuh Imanto