UNAIR NEWS – Penyakit Tidak Menular (PTM) masih menempati angka penyintas yang tinggi di Indonesia. Padahal, PTM menjadi momok terbesar mengingat perannya sebagai penyakit pembunuh nomor satu. Maka dari itu, upaya pertama untuk menekan lonjakan PTM adalah dengan melakukan pendeteksian sedini mungkin.
Menanggapi hal itu, Prof Dr Miratul Khasanah MSi kemudian mengembangkan alat pendeteksi PTM yang ia sebut dengan sensor elektrometri. Hal itu ia sampaikan bersamaan dengan pengukuhannya sebagai Guru Besar Universitas Airlangga pada Rabu (11/10/2023) di Aula Garuda Mukti Kampus MERR-C.
“Pengembangan perangkat pendiagnosis dini suatu penyakit merupakan kebutuhan mendesak,” ungkap Prof Mira dalam orasi pengukuhannya yang berjudul Sensor Elektrometri dan Aplikasinya di Bidang Kesehatan.
Kelebihan Sensor Elektrometri
Selama ini, pendeteksian penyakit tidak menular seperti asam urat, diabetes mellitus, penurunan fungsi ginjal, dan kolesterol umumnya menggunakan metode finger stick. Sayangnya, metode tersebut hanya bisa melakukan pemantauan rutin dengan hasil yang kurang kuantitatif.
Prof Mira kemudian mengembangkan sensor elektrometri yang merupakan sensor non-enzimatik berbasis karbon termodifikasi Imprinted Zeolit (IZ). Sensor tersebut menjadi jawaban sejumlah kelemahan yang terdapat pada metode-metode sebelumnya, salah satunya terlihat pada deteksi gula darah.
“Menggunakan sensor berbasis IZ TS-1 mampu mendeteksi kadar glukosa darah hingga konsentrasi 0,9 mg/dL. Nilai ini seratus kali lebih rendah daripada limit deteksi metode pada laboratorium,” jelasnya.
“Metode analisis gula darah dengan limit deteksi rendah ini,” sambung Prof Mira, “sangat bermanfaat untuk deteksi awal penyakit diabetes. Sensor tersebut memiliki waktu respon kurang dari 30 detik dan stabil dalam waktu sembilan minggu dengan 130 kali pemakaian.”
Selain fungsinya, Prof Mira juga mengatakan bahwa sensor elektrometri memiliki kelebihan dalam aspek ekonomi. Kelebihan tersebut dapat tercapai mengingat pengguna dapat mengaplikasikan sensor elektrometri berulang kali.
“Penggunaan sensor elektrometri ini akan semakin memperkecil biaya analisis karena sensor tersebut penggunaannya bisa berulang-ulang dan dalam rentang waktu yang lama,” ujar Prof Mira.
Di akhir orasinya, Prof Mira berharap jika sensor yang ia kembangkan dapat mengurangi ketergantungan pada satu jenis instrumen tertentu. Terlebih, ia juga mengungkapkan harapannya atas sensor elektrometri tersebut dapat memberikan kontribusi besar bagi masyarakat.
“Dengan menggunakan metode alternatif yang akurat dan ekonomis ini, harapannya dapat melakukan pendiagnosisan sedini mungkin terhadap beberapa penyakit sehingga dapat memberikan treatment yang tepat pada penderitanya,” pungkasnya. (*)
Penulis: Muhammad Badrul Anwar
Editor: Binti Q. Masruroh





