UNAIR NEWS – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar diskusi publik bertajuk DIRAYA 2025: Diskusi Bersama Rakyat pada Jumat (14/11/2025). Diskusi yang mengangkat tema krusial Kemana Arah Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat Indonesia itu menghadirkan Guru Besar Hukum Tata Negara sekaligus Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan RI, Prof Dr H Mohammad Mahfud Mahmodin SH SU MIP.
Acara yang berlangsung di Aula A.G. Pringgodigdo, Gedung FH lt. 12 Kampus Dharmawangsa-B UNAIR ini juga menghadirkan Dosen Ilmu Politik UNAIR, Airlangga Pribadi Kusman SIP MSi PhD. Diskusi dipandu oleh Dosen Hukum Tata Negara UNAIR, Dinar Karunia SH MH, sebagai moderator.
Sejarah dan Arah Demokrasi Indonesia
Dalam pemaparannya, Prof Mahfud menjelaskan sejarah demokrasi Indonesia. Mulai dari sistem presidensial, parlementer, negara serikat, hingga demokrasi terpimpin. Ia membandingkan era Orde Baru yang prosedural namun substansinya otoriter, dengan era reformasi.
Ia memuji awal reformasi (1999-2009) yang berhasil melahirkan demokrasi substantif. Namun, ia menandai adanya pergeseran pasca-periode tersebut, ketika demokrasi kembali bergeser menjadi prosedural dan memunculkan fenomena yang ia sebut sebagai Autocratic Legalism (Legalisme Otokratis).
Ia menjelaskan, dalam kondisi ini, hukum didahului oleh kekuasaan untuk melegalkan kepentingan sepihak. “Kalau penguasa menghendaki sesuatu tapi hukumnya tidak ada, maka segera dibuat hukum. Kalau undang-undangnya sudah ada tapi menghambat, undang-undangnya yang diganti, dan kalau tidak bisa diubah karena banyak demo, Judicial Review ke MK,” tambahnya.
Meski menyoroti beberapa evaluasi dalam perjalanan demokrasi hingga saat ini, Prof Mahfud menyerukan untuk kembali ke cita-cita demokrasi yang sesungguhnya. “Kembali ke demokrasi substantif, demokrasi yang mengangkat hak martabat manusia, membangun kesejahteraan umum, memberi kebebasan berekspresi terhadap seluruh rakyat,” pungkasnya.

Membangkitkan Harapan dengan Pikiran Merdeka
Sementara itu, Airlangga Pribadi Kusman menyebut antusiasme peserta yang hadir adalah bukti bahwa harapan masih ada. “Dari begitu antusiasnya kawan-kawan semua datang dalam diskusi ini, setidaknya masih ada harapan, harapan yang cukup besar bahwa kita masih ingin berjuang melalui proses demokrasi kita,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa perjuangan itu harus didasari pemahaman jujur atas persoalan saat ini. Ia menganalogikan demokrasi Indonesia saat ini ibarat handphone canggih namun baterainya soak karena tidak terawat sejak reformasi, merujuk pada upaya elite membelokkan hukum yang melemahkan demokrasi.
Oleh karena itu, Airlangga Pribadi menutup diskusinya dengan seruan untuk membangkitkan kembali nalar kritis, meneladani sosok pahlawan seperti Gus Dur yang ‘menyalakan lilin’ di masa suram.
“Yang lebih penting adalah membangkitkan harapan. Yang lebih penting adalah membangun kembali diskusi, ruang publik, (dan) pikiran yang merdeka,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Abid Zhahiruddin
Editor: Khefti Al Mawalia





