UNAIR NEWS – Sepintas tak ada yang berbeda dengan salah satu peserta Dauroh Tahfidz ini. Ia menyambut ramah ketika UNAIR NEWS menemuinya selepas murajaah. Ia tak keberatan ketika kami hendak merangkum ceritanya sebagai sosok yang menginspirasi.
Adalah Hannan. Keterbatasan fisiknya bukan jadi penghalang untuk mencapai apa yang diimpikan. Menyandang tunanetra sejak lahir tak membatasi dirinya untuk bisa belajar Alquran. Ia membuktikan, semangat dan kesabarannya mampu mengantarkannya menjadi penghafal Alquran. Berbekal lima juz hafalan, tahun ini Hanan berkesempatan menerima beasiswa tahfidz Quran.
Hannan mengakui, bahwa selama ini dirinya hanya menghafal secara otodidak sejak semester I. Ia rajin mendengar murottal Alquran atau membaca Alquran braille miliknya.
Sebagai salah satu penerima beasiswa tahfidz dari UNAIR, Hanan diwajibkan mengikuti program Dauroh Tahfidz yang dimulai sejak Rabu (1/8). Bersama dua puluh sembilan rekannya, ia menjalani karantina dan monitoring hafalan selama tujuh hari di Masjid Ulul Azmi.
”Sebab, selama ini hafalannya secara otodidak. Jadi, tidak ada yang mengoreksi. Melalui dauroh tahfidz, saya bisa melakukan setoran hafalan dan dikoreksi oleh ustadzah sehingga hafalan saya lebih baik,” katanya.
Selain itu, Hannan merasa senang dapat bertemu teman-teman baru yang sama-sama berproses menghafal Alquran. Kegiatan tersebut merupakan kesempatan bagi dia untuk bisa belajar agama lebih intensif dari sebelumnya.
”Dengan menghafal, saya selalu merasa bersama Alquran. Dan, Allah senantiasa memuliakan orang-orang yang menghafal Alquran,” ujar mahasiswi D3 Bahasa Inggris tersebut.
Bagi dia, Alquran adalah obat terbaik ketika semangat belajar dan imannya sedan turun. Tiap kali seusai membaca Alquran, Hanan selalu merasa mendapat pertolongan dan kemudahan. Pada sela-sela wawancara, ia sempat melantunkan beberapa ayat dari Surat Ar-Rahman dengan fasih dan merdu.
Hannan berbagi kisah awal mula memutuskan untuk berhijrah. Berawal dari pengalaman umrah tahun lalu, ketika ia sedang berada di Masjidil Haram. Di sana, Hanan mendengar orang-orang di sekitarnya tengah mengaji. Sebab, baterai Alquran digitalnya habis, ia pun sedih tak bisa turut mengaji.
”Andai hafal Alquran, tentu saya bisa ikut mengaji seperti mereka. Pikir saya waktu itu,” kenangnya. Ia pun bertekad akan menghafal Alquran dengan sungguh-sungguh ketika tiba di tanah air.
Bukan hanya itu, Hanan juga membagikan pengalamannya saat mengunjungi Palestina. Ia mendengar dengan saksama ketika pemandunya menjelaskan tentang kondisi anak-anak di sana. Betapa sulit bagi anak-anak Palestina bisa belajar dan menuntut ilmu di tengah keadaan yang memprihatinkan.
Dari situ, Hannan merasa bahwa selama ini dirinya jauh lebih beruntung mendapat berbagai kelapangan dalam hidupnya. Ia menyesali dirinya yang dulu terlampau berorientasi pada hal duniawi. Sepulang dari Palestina, muncul niatnya untuk memperdalam ilmu agama.
Hannan juga merasa terkesan dengan perlakuan orang-orang di sana kepada para penyandang disabilitas. Ia mendapat penyambutan yang luar biasa.
“Kalau di Indonesia, orang-orang yang berkebutuhan khusus justru dikasihani. Tapi, di sana, ketika bertemu, selalu didoakan, disambut, dan dibantu. Di sini, masih banyak diskriminasi,” ujarnya.
Motivasinya menghafal Alquran tak sekadar untuk mengejar beasiswa. Hanan yakin janji Allah yang akan memuliakan para penghafal Alquran. Ia juga teringat sebuah hadits Rasulullah SAW yang berbunyi “Sesungguhnya Allah berfirman, Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan dua kekasihnya (kedua matanya) kemudian ia bersabar, niscaya Aku mengantikan keduanya (kedua matanya) dengan surga.” (HR. Bukhari no 5653).
Hadits itu menyadarkan Hannan bahwa sesungguhnya Allah memberikan kemuliaan bagi orang-orang sepertinya asal mereka beriman dan bersabar. Hannan sangat bersyukur menjadi salah satu insan yang mendapat keistimewaan.
Sempat menjalani beberapa kali operasi dan cangkok mata, tak membuahkan hasil, Hannan tak lantas menyalahkan takdir. Ia yakin bahwa ini adalah yang terbaik baginya.
Tak ada lagi rasa iri dan kecemburuan terbersit tatkala ia ”melihat” teman-temannya dapat melakukan aktivitas dengan mudah dan bebas. Hannan percaya, akan selalu ada kemudahan di balik apa yang dialaminya.
”Saya pikir, sekarang teknologi makin berkembang, lagipula banyak yang bersedia membantu. Saya menerima semuanya dan bahagia sampai sekarang,” tuturnya, lantas tersenyum. (*)
Penulis: Zanna Afia Deswari
Editor: Feri Fenoria Rifa’i





