UNAIR NEWS – Puisi merupakan salah satu cara bentuk komunikasi orang dengan arah yang tidak biasa. Melalui puisi ini, seseorang dapat menyampaikan pesan dengan cara yang tidak biasa, penuh makna, dan mendalam. Sebagai bentuk apresiasi terhadap seni sastra yang telah mewarnai peradaban manusia, dunia memperingati Hari Puisi Internasional setiap tanggal 21 Maret untuk merayakan peran puisi dalam menginspirasi, menyuarakan isu sosial, dan memperkaya budaya
Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) Puji Karyanto S S M Hum turut menyoroti. Menurutnya, puisi mampu menghadirkan komunikasi yang lebih elegan dan berwibawa daripada komunikasi biasa. “Di era digital, puisi memiliki banyak peran. Selain sebagai sarana komunikasi yang lebih estetik, puisi juga menjadi medium kritik sosial terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Kritik melalui puisi cenderung lebih sublim dan berbobot,” ujarnya.
Puisi dalam Peradaban
Bagi Puji, puisi ini telah menjadi bagian dari peradaban manusia sejak lama. Ia menjelaskan bahwa awalnya puisi dikenal sebagai mantra, yang digunakan untuk berkomunikasi dengan kekuatan di luar dunia manusia. Seiring waktu, mantra ini berkembang menjadi doa, sementara puisi terus berevolusi mengikuti perubahan zaman.
Sebelumnya di Nusantara, puisi berkembang melalui berbagai tradisi, seperti macapat di Jawa, kakawin di Bali, hingga syair di Melayu. Pada masa kolonialisme, puisi menjadi alat perjuangan kaum tertindas. Setelah kemerdekaan, puisi berfungsi sebagai pemantik semangat nasionalisme. Kemudian, ketika masa Orde Lama, puisi juga menjadi sarana kritik terhadap kebijakan pemerintah, seperti yang terlihat dalam Piramida Benteng karya Taufik Ismail. “Setiap hari kita mendengarkan lagu, dan itu juga merupakan bentuk puisi,” tambahnya.

Demokratisasi Puisi di Era Digital
Lebih lanjut, Puji mengungkapkan bahwa apresiasi terhadap puisi masih tetap terjaga sampai saat ini. Pembedanya adalah media yang digunakan untuk mengekspresikan puisi sekarang semakin beragam. Sehingga, di era digital telah menciptakan demokratisasi puisi, di mana siapa pun bisa menulis dan membagikannya di media sosial atau komunitas sastra online.
“Banyak platform digital yang menyediakan ruang bagi puisi, dari media sosial hingga komunitas sastra virtual. Selain itu, pemerintah juga terus mengadakan berbagai ajang apresiasi sastra, seperti lomba puisi di Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) atau Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas),” jelasnya.
Mengoptimalkan Era Digital untuk Berkarya
Kendati demikian, Puji memberikan tiga langkah bagi generasi muda agar bisa memanfaatkan era digital dalam berkarya melalui puisi. Pertama, ia menyarankan agar media sosial digunakan sebagai wadah untuk mengekspresikan pemikiran dan perasaan melalui puisi. Kedua, ia menekankan pentingnya mengembangkan kualitas karya dengan mengapresiasi puisi orang lain, belajar dari karya-karya terbaik, serta mengirimkan puisi ke lembaga penerbitan atau kompetisi. Terakhir, yakni mendorong anak muda untuk memanfaatkan ruang-ruang berprestasi, baik melalui lomba-lomba sastra maupun program apresiasi sastra lainnya.
“Oleh karena itu, mari berpartisipasi aktif dalam mengoptimalkan, mengapresiasi, menulis, dan membaca, sehingga para penulis yang telah berkarya semakin termotivasi untuk terus menulis. Jika ada puisi yang dirasa kurang sesuai, dapat diungkapkan kembali dengan gaya dan bahasa sendiri,” tutupnya.
Penulis : Adinda Octavia Setiowati
Editor : Ragil Kukuh Imanto





