Universitas Airlangga Official Website

HMD Bahasa dan Sastra Indonesia Adakan Webinar Filologi

Abimardha Kurniawan menjelaskan perubahan arti banaspati. (Foto: SS Zoom)

UNAIR NEWS – HMD Bahasa dan Sastra Indonesia, UNAIR mengadakan ACCEPT (Airlangga Webinar on Climate Change in Philology Study). Kegiatan tersebut menggandeng Airlangga Global Engagement membahas kebudayaan yang terdapat pada naskah lama melalui zoom meeting.

Acara bertajuk “Uncovering Ancient Manuscripts: How Our Ancestors Overcome Climate Change” mengundang pembicara Dr Abimardha Kurniawan SHum MA pada Sabtu (23/9/2023). Dia banyak mengulas tentang implementasi naskah Nusantara dalam isu perubahan iklim. Pembahasan tersebut menurutnya sesuai dengan kondisi iklim saat ini.

Naskah Kuno dan Iklim

Menurut Abi, sapaan akrabnya, Mahayana Buddhism memiliki mantra hati Vajrapani Bodhisattva yang diajarkan di Vajrapani. Dia menjelaskan, mantra tersebut bisa mendatangkan petir untuk menurunkan hujan. 

“Berdasarkan ritual manual Buddha kuno tentang pertaniaan dari abad ke-5. Terdapat instruksi bagi Sangha untuk memberikan layanan terkait pertanian kepada umat awam termasuk pembuatan hujan, pengendalian cuaca, dan perlindungan tanaman yang termuat dalam Vajra Tundasamayakalparaja,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Abi mengungkapkan bahwa kekeringan dan gagal panen sudah pernah ada sejak dahulu. Kondisi tersebut, ungkap Abi, membuat sekelompok orang melakukan ritual dengan melakukan pendekatan diri kepada alam. Menurutnya, ketika melakukan ritual seperti itu harapan orang-orang supaya hujan turun dapat terjadi.

Mitologi Kuno

Selain naskah kuno, Abi juga menjelaskan tentang mitologi kuno yang menjadi kepercayaan orang Jawa. Meskipun sudah memasuki perkembangan zaman, tambahnya, kepercayaan leluhur masih tetap terwariskan hingga kini. 

Abi mencontohkan mitologi kuno pada istilah banaspati atau wanaspati yang terkenal di Jawa. Menurutnya, istilah tersebut mempunyai dua makna berbeda. Lebih jelas, Abi menerangkan banaspati sebagai makhluk demanik berwujud buto. Sedangkan arti yang lain adalah banaspati sebagai pohon besar yang termasuk kelompok tumbuhan berbuah tanpa berbunga.

Menurut Abi, orang Jawa lebih mengenal banaspati sebagai roh jahat bertubuh raksasa. Melalui roh jahat ini, lanjutnya, berkembang cerita-cerita menakutkan. “Banaspati tergambar sebagai kepala monster berkepala besar yang mengancam anak-anak, terkadang terlihat menempel di pohon,” tuturnya.

Abi menambahkan bahwa perwujudan banaspati seperti itu sangat berbeda dengan tradisi Jawa Kuno yang menggambarkannya dalam bentuk pohon. “Masyarakat menciptakan cerita-cerita tabu tentang banaspati hanya untuk memberikan perlindungan terhadap kelestarian hutan. Kita jadi lupa mengapa banaspati kemudian mengalami pergantian referensi dan digambarkan begitu menakutkan oleh masyarakat Jawa,” tutupnya.

Penulis: Iratri Puspita

Editor: Nuri Hermawan