Defisiensi vitamin D merupakan masalah global dunia, prevalensi kekurangan vitamin D (25(OH)D3) di Asia berkisar 27%-60%. Status vitamin D yang rendah (25(OH)D < 50 nmol/L) dikaitkan dengan peningkatan risiko defisiensi zat besi dan kadar feritin yang rendah. Dalam meta-analisis kami menemukan bukti terbatas peningkatan risiko anemia pada anak-anak dengan status vitamin D rendah. Meskipun merupakan negara tropis dengan sinar matahari yang melimpah, defisiensi vitamin D masih menjadi masalah yang terus-menerus di Indonesia. Terdapat studi yang menunjukkan bahwa sekitar 54% bayi baru lahir memiliki kadar vitamin D di bawah 30 mmol/L.
Dampak defisiensi vitamin D
Defisiensi vitamin D pada bayi baru lahir dapat menimbulkan risiko pada sistem imun bawaan dan adaptif yang terganggu. Secara in vitro, vitamin D dikaitkan dengan perubahan beberapa sitokin, seperti interferon γ, IL-4, IL-5, IL-6, IL-10, dan IL-13 [14]. Dalam kasus respon imun bawaan, peningkatan kadar sitokin pro-inflamasi seperti IL-1 dan IL-6 dan penurunan kadar sitokin anti-inflamasi seperti interleukin IL-4 dan IL-10 telah dikaitkan dengan kadar 25(OH)D3. Kadar feritin yang rendah dikaitkan dengan peningkatan risiko defisiensi vitamin D sebanyak 6,59 kali lipat pada ibu hamil. Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami epidemiologi dan faktor risiko defisiensi vitamin D selama awal kehidupan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki secara awal korelasi antara kadar vitamin D, IL-6, dan IL-10 dalam darah tali pusat neonatal dan interaksi molekulernya. Lebih jauh lagi, penelitian ini juga meneliti korelasi antara vitamin D dan feritin untuk memperoleh analisis yang lebih holistik mengenai interaksi antara vitamin D dan komponen utama respon imun dan inflamasi, yang memberikan wawasan berharga mengenai peran gabungan keduanya dalam kesehatan dan penyakit.
Metode dan hasil
Penelitian dengan desain potong lintang dengan mengumpulkan sampel darah sebanyak 5 ml dari 114 tali pusat bayi baru lahir cukup bulan dengan berat lahir ≥2,5 kg, tanpa kelainan bawaan atau yang menderita infeksi akut saat lahir. Kuantifikasi serum 25(OH)D3 dilakukan menggunakan kit radioimunoassay komersial (IDS Inc., Draper, UT, AS). Sedangkan untuk mengukur serum feritin, IL-6, dan IL-10 ditentukan menggunakan ELISA. Metode in silico digunakan untuk memeriksa hubungan molekuler antara vitamin D dan IL-6/IL-10. Penggunaan 20 ng/mL sebagai batas kekurangan vitamin D menunjukkan hubungan yang tidak signifikan antara vitamin D dengan IL-6 (p=0,42), IL-10 (p=0,76), dan feritin (p=0,47), namun ketika kadar vitamin D tali pusat dikategorikan ke dalam empat kuartil, hubungan dengan signifikansi statistik tertinggi (kuartil 4 versus kuartil 2) diamati untuk IL-6 (p<0,001), IL-10 (p<0,001), dan feritin (p<0,001). Namun, regresi linier tidak menunjukkan korelasi signifikan antara vitamin D dengan IL-6 (p=0,40) dan IL-10 (p=0,45). Korelasi signifikan berdasarkan regresi linier ditemukan antara feritin dan IL-10 (p=0,03). Studi docking molekular menunjukkan afinitas pengikatan sebesar -8,04 kkal/mol untuk IL-6-vitamin D dan -8,53 kkal/mol untuk kompleks IL-10-vitamin D, dengan deviasi akar kuadrat rata-rata yang stabil di seluruh simulasi. Studi ini memberikan wawasan berharga ke dalam analisis klinis dan komputasional tentang hubungan vitamin D dengan IL-6 atau IL-10.
Penulis : Dr. Azwin Mengindra Putera, dr, SpA(K)
NIP : 197812142008121002
HP : 08113004112
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
http://doi.org/10.52225/narra.v4i3.889
Muhammad N. Massi, Bahrul Fikri, Azwin M. Putera, Sofa D. Alfian, Nadirah R. Ridha, Sri H. Putri, Ummi Chaera, Israini W. Iskandar, Naoki Shimojo (2024). Association between vitamin D levels with IL-6 and IL-10 in umbilical cord blood of infants. Narra J 2024; 4 (3): e889





