Masa remaja awal adalah waktu dimana konflik remaja dengan orang tua meningkat lebih dari konflik anak dengan orang tua. Peningkatan ini bisa terjadi karena beberapa faktor yang telah dibicarakan yang melibatkan pendewasaan remaja dan pendewasaan orang tua. Perubahan biologis pubertas, perubahan kognitif termasuk meningkatnya idealisme dan penalaran logis, perubahan sosial yang berpusat pada kebebasan dan jati diri, harapan yang tak tercapai, dan perubahan fisik, kognitif dan sosial orang tua sehubungan dengan usia paruh baya. Problem emosional yang sering dialami oleh remaja biasanya dihubungkan dengan masa transisi yang mereka alami dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Masa transisi ini ditandai dengan perubahan secara biologi, peranan sex, dan status sosial budaya. Selama masa perubahan dan peralihan ini, remaja menghadapi kondisi baru serta berada di bawah tekanan sosial, sedangkan selama masa kanak-kanak mereka kurang mempersiapkan diri. Problem emosional yang sering dialami oleh remaja biasanya dihubungkan dengan masa transisi yang mereka alami dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Masa transisi ini ditandai dengan perubahan secara biologi, peranan sex, dan status sosial budaya. Selama masa perubahan dan peralihan ini, remaja menghadapi kondisi baru serta berada di bawah tekanan sosial, sedangkan selama masa kanak-kanak mereka kurang mempersiapkan diri.
Anak yang mendapatkan pola asuh yang over protective akan lebih sering diawasi oleh orang tua, dan harus melakukan seperti apa yang orang tua inginkan. Sehingga orang terdekat adalah orang tua dari anak tersebut. Anak dengan kekangan dan batasan dari orang tua, menjadikan anak bersikap agresif, gemar menentang, dan melanggar norma hingga menyebabkan konflik interaksi dengan orang tua. Lingkungan sosial dan jumlah saudara yang dimiliki keluarga berperan penting dalam pola asuh yang diterapkan oleh orang tua. Anak dengan pola asuh over protective harus melakukan apa yang orang tua inginkan, dan terkadang orang tua melakukan kekerasan supaya anak berperilaku baik. Orang tua cenderung untuk menghukum anak bila tidak mematuhi keinginan orang tua.
Faktor lain yang juga berpengaruh pada konflik interaksi orang tua adalah usia responden yang mayoritas berusia 17 – 19 tahun (masa remaja akhir). Menurut (Hurlock 1981) remaja adalah mereka yang berusia pada rentang umur 12 – 19 tahun. Stanley Hall dalam (Santrock 2003) menyebutkan bahwa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) serta masa yang penuh dengan permasalahan. (Santrock 2003) menyebutkan bahwa pada remaja akan mengalami masa krisis identitas yang meliputi identity diffusion / confussion, moratorium, foreclosure, dan indentity achieved. Masa remaja merupakan masa pencarian identitias. Remaja akan merasa bangga apabila mendapat pujian atau penghargaan dari teman sebayanya. Konflik interaksi orang tua dengan remaja sebagian besar adalah konflik interaksi dalam kategori rendah, dimana orang tua yang selalu menuntut anaknya untuk menjadi lebih baik dengan belajar setiap saat serta memberikan hukuman apabila anak memiliki nilai jelek dan berkelakuan kurang baik di sekolah seperti membolos. Konflik interaksi orang tua dapat menyebabkan perubahan perilaku pada remaja seperti kecanduan game online. Orang tua sebagai lingkungan yang paling dekat dengan anak hendaknya dapat mengetahui cara berkomunikasi dan berinteraksi sesuai dengan tahap perkembangan remaja. Saat terjadi konflik interaksi dengan anaknya, hendaknya orang tua dapat menyelesaikannya dengan cara yang baik, sehingga anak tidak mencari pelarian dengan bermain game online. Tenaga kesehatan atau peneliti diharapkan dapat memberikan solusi pada konflik interaksi orang tua dengan remaja, sehingga remaja tidak mencari pengalihan konflik dengan bermain game online.
Penulis: Iqlima Dwi Kurnia





