Universitas Airlangga Official Website

Hubungan Rasio Laktat-Piruvat dan Mortalitas pada Cedera Otak Traumatika

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Cedera otak traumatic/Traumatic Brain Injury (TBI) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia, terutama di kalangan populasi muda yang produktif. Menurut perkiraan global, sekitar dua juta kematian setiap tahunnya disebabkan oleh TBI, dan angka prevalensi kecacatan jangka panjang jauh lebih tinggi. Di Indonesia, TBI menjadi salah satu penyebab utama rawat inap di rumah sakit serta kematian terkait trauma. Meskipun perkembangan teknik bedah saraf dan perawatan kritis telah membantu meningkatkan angka kelangsungan hidup, prediksi hasil TBI masih menjadi tantangan besar. Alat klinis tradisional seperti Glasgow Coma Scale (GCS) dan tanda vital sering kali tidak mampu menggambarkan perubahan metabolisme seluler yang mendasari perburukan klinis pasien. Dalam upaya meningkatkan akurasi prognostik, beberapa penelitian menunjukkan bahwa rasio laktat-piruvat (LPR) bisa menjadi penanda prognostik yang lebih sensitif, yang mencerminkan keseimbangan redoks seluler dan fungsi mitokondria.

Penelitian ini merupakan studi observasional prospektif yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo, Surabaya, Indonesia, dari Mei hingga Juli 2025. Sebanyak 40 pasien TBI yang dirawat dalam waktu 24 jam setelah trauma dimasukkan dalam penelitian. Data yang dikumpulkan meliputi informasi demografi, tanda vital, skor GCS, serta kadar laktat dan piruvat darah yang diukur saat pasien diterima. Pasien dipantau selama tujuh hari dan hasil kematian dicatat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien adalah laki-laki (72,5%), dengan usia rata-rata 45 tahun. Kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab cedera yang dominan. Tingkat kematian dalam tujuh hari adalah 20%, dengan delapan pasien meninggal. Pada kelompok non-survivor, terdapat perbedaan signifikan dalam tanda vital seperti detak jantung yang lebih tinggi, saturasi oksigen yang lebih rendah, dan skor GCS yang lebih rendah pada saat masuk dibandingkan dengan kelompok yang selamat. Analisis biokimia menunjukkan perbedaan mencolok dalam kadar laktat. Pasien yang meninggal memiliki kadar laktat median 3,99 mmol/L, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 0,31 mmol/L pada pasien yang selamat, yang menunjukkan perbedaan signifikan (p < 0,001). Meskipun kadar piruvat tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan, rasio laktat-piruvat pada kelompok non-survivor lebih tinggi secara signifikan, dengan median 62,78 dibandingkan dengan 2,97 pada kelompok yang selamat (p < 0,001). Kelompok non-survivor sebagian besar terklaster di kategori LPR yang lebih tinggi, dengan 50% pasien pada kategori 40-59,99 meninggal, sedangkan hampir seluruh pasien yang selamat berada pada kategori LPR <20.

Studi ini menunjukkan bahwa rasio laktat-piruvat (LPR) memiliki korelasi yang kuat dengan mortalitas pada pasien cedera otak traumatik. Kadar LPR yang lebih tinggi menunjukkan adanya disfungsi mitokondria dan kegagalan metabolik seluler, yang merupakan proses utama dalam cedera otak sekunder. Pengukuran rutin LPR dapat menjadi alat yang berguna dalam menilai risiko kematian dini pada pasien TBI, terutama di lingkungan yang terbatas sumber daya, seperti di Indonesia. LPR dapat melengkapi alat prognostik tradisional seperti GCS dan pemeriksaan gambar, yang hanya mengukur kerusakan anatomi tanpa mencerminkan gangguan metabolik yang mendalam. Diperlukan penelitian lebih lanjut dalam skala multicenter untuk memvalidasi temuan ini dan mengintegrasikan LPR dalam protokol manajemen pasien TBI.

Penulis: Dr. Prananda Surya Airlangga, dr., M.Kes., Sp.An-TI, Subsp. TI (K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://verjournal.com/index.php/ver/article/view/666

Ismi Afriani N, Surya Airlangga P, Kriswidyatomo P, Pujo Semedi B, Hari Santoso K. Lactate-Pyruvate Ratio and mortality association in Traumatic Brain Injury [Internet]. Vol. 8, Vascular and Endovascular Review. 2025.