Selama pandemi COVID-19 kelompok orang dengan masalah kekebalan menjadi salah satu yang paling rentan. Anak-anak dengan HIV termasuk contoh yang paling riskan mengalami kejadian sakit berat apabila terkena penyakit tersebut. Kelompok ini memerlukan perlindungan vaksin. Berbagai penelitian di masa lalu mengungkapkan bahwa kelompok dengan gangguan kekebalan seperti anak HIV berespon kurang baik terhadap imunisasi. Kedua hal di atas menjadi pertimbangan untuk meneliti kadar antibodi terhadapCOVID-19 pada anak HIV yang selama ini belum banyak diketahui.
Penelitian dilakukan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya sejak Januari hingga Mei 2024 dengan memakai data yang bersumber dari dokumen medik, wawancara, dan spesimen darah dari anak HIV. Selama kurun waktu penelitian didapat 44 subyek berusia 3-17 tahun dan 86,4% di antaranya mempunyai IgG COVID-19 yang positif. Pada mereka yang berusia di atas 5 tahun, tingginya IgG berhubungan dengan kelompok perempuan,kadar CD4 yang tinggi, dan virus yang tidak terdeteksi. Anak-anak yang menerima vaksin lebih dari sekali jelas mempunyai kadar kekebalan yang lebih tinggi dibandingkan yang tidak divaksin. Karena keterbatasan data, anak berusia kurang dari 5 tahun tidak dapat dianalisis.
Sebagai kesimpulan, pada anak dengan HIV yang berusdia di atas 5 tahun, respon kekebalan humoral yang ditandai dengan kadar antibodi berhubungan dengan tingginya kadar CD4 dan virus yang tidak terdeteksi. Hasil ini mengindikasikan pentingnya strategi imunisasi individual pada kelompok anak dengan gangguan kekebalan. Perlindungan optimal akan diperoleh jika virus HIV terkendali dan kekebalan tubuh dalam kondisi baik.
Penulis: Raissa Virgy Rianda, Iqlima Luthfita Sari, Rahma Ira Mustikasari, Leny Kartina, Dwiyanti Puspitasari, Dominicus Husada, Parwati S Basuki, Ismoedijanto Moedjito
Link artikel: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/the-relationship-between-immunological-response-of-covid-19-vacci/





