UNAIR NEWS – Setiap kasus kematian yang ditemukan secara misterius terdapat seni tersendiri untuk mengungkapnya. Terkadang, proses rekonstruksi kejadian tidak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh saksi kejadian. Di sinilah forensik berperan untuk membantu mengungkap setiap kasus. Poin penting dari menuntaskan suatu kasus ada pada penemuan bukti.
Melanjutkan seri kuliah tamu antropologi sebelumnya pada Selasa (16/5/2023) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali mengundang Prof T. Nataraja Moorthy sebagai narasumber. Kali ini, pembahasannya berjudul Establishing Identity in Forensic Sciences & Forensic Anthropology. Kuliah tamu tersebut berlangsung di Ruang Adi Sukadana FISIP.
Nataraja mengawali materi dengan menerangkan terkait tempat kejadian pekara (TKP). Ia menjelaskan bahwa TKP adalah setiap tempat kejadian fisik, di mana saja, yang dapat memberikan bukti potensial kepada penyelidik. TKP bisa terdapat di dalam maupun di luar ruangan, di mana aktivitas kejahatan yang sebenarnya terjadi.
Selain itu, TKP merupakan gudang informasi yang mengandung banyak bukti berupa bukti fisik yang terlihat dan tidak terlihat. Dalam mengidentifikasi bukti inilah selain forensic, antropologi juga ikut berperan.
Nataraja mengatakan, perlu memiliki pemahaman terkait bukti untuk memecahkan suatu kasus. “Dengan memiliki keahlian dan basic knowledge bukti kita bisa memecahkan penyebab kasus terjadi. Salah satunya memahami proses menemukan sidik jari akan mempermudah identifikasi,” ungkap Nataraja.
Pendekatan Dasar Forensik
Kemudian, terkait apa saja yang bisa menjadi bukti, Nataraja menjelaskan dengan pendekatan dasar forensik. Ia menerangkan prinsip dasar forensik adalah bahwa setiap kontak meninggalkan jejak (Edmond Locard). Hal Ini mungkin bisa saja kontak seseorang dengan seseorang, kontak seseorang dengan kendaraan atau lokasi, atau kendaraan dengan lokasi. Bukti bisa dari TKP atau dari temuan otopsi. Sedangkan bukti fisik, Nataraja mengatakan bisa berupa apa saja yang memberi tahu kita tentang situasi yang sedang diselidiki.

Sidik jari biasanya dipikirkan terlebih dahulu ketika mempertimbangkan metode untuk mengidentifikasi individu. Untuk menampilkan sidik jari yang tidak terlihat perlu menggunakan bubuk berbahan kimia. Tidak hanya sidik jari saja yang dapat menjadi bukti suatu kasus, masih banyak bukti fisik lain seperti sidik kaki, rambut, dan noda darah.
“Selain bukti fisik, bagi para praktisi perlu tetap mengikuti perkembangan teknologi baru untuk proses identifikasi. Teknik pemeriksaan tulisan tangan, lalu, seperti pemeriksaan jejak kaki antropologi forensik, odontologi forensik juga perlu diperhatikan karena penting untuk membangun identitas,” ucapnya.
Bukti Tulisan Tangan
Nataraja membahas beberapa kasus yang berhasil ia pecahkan dengan temuan bukti-bukti yang ia selidiki. Salah satunya ia memecahkan kasus setelah menganalisa tulisan pelaku kejahatan, yang mana pelaku ini awalnya tidak mengakui perbuatannya namun dengan menyamakan tulisan pelaku dan tulisan ancaman akhirnya pelaku dapat mengakui perbuatannya.
Nataraja mengatakan bahwa tulisan tangan dapat menjadi bukti karena setiap orang memiliki ciri khasnya. “Tulisan tangan setiap orang berbeda karena berasal dari pikiran masing masing orang,” ungkap Nataraja.
Nataraja menekankan bahwa identitas adalah elemen kunci dalam ilmu forensic. Cara mengetahui identitas itulah bermula dari penemuan bukti di TKP. (*)
Penulis: Shafa Aulia R
Editor: Binti Q. Masruroh





