Universitas Airlangga Official Website

Iklan Kontroversial Pengaruhi Pemasaran Perusahaan, Begini Respon Dosen Ekonomi UNAIR

Iklan berperan penting pada pemasaran dan branding perusahaan (Sumber Foto: Pexels.com)

UNAIR NEWS – Konsep iklan kontroversial yang marak dan menimbulkan aksi boikot ramai mencuat di media. Hal itu mempengaruhi penurunan omset penjualan. Kondisi tersebut mendapat respon dari Prof Rossanto Dwi Handoyo SE MSi PhD. 

Dosen sekolah pascasarjana Ilmu Ekonomi, Universitas Airlangga ini menyebutkan bahwa iklan menjadi salah satu cara perusahaan untuk membangun branding kepada konsumen.

“Iklan berfungsi sebagai media pemasaran bagi perusahaan untuk memastikan dan mempertahankan konsumen. Dengan kehadiran iklan maka perusahaan juga bisa bersaing dengan kompetitor lain di pasaran,” terang Prof Rossanto.

Penjelasan Prof Rossanto tersebut berbanding terbalik apabila iklan berisi konten atau narasi yang memuat unsur SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) maupun aspek kontroversial lain. Dia menjelaskan iklan seperti itu memicu penolakan dari masyarakat.

“Tidak selamanya iklan selalu mendapatkan penerimaan dari masyarakat selaku konsumen. Apabila di dalam iklan berisi konten yang menyudutkan kelompok tertentu pasti mereka akan melakukan tindakan penolakan,” jelasnya.

Prof Rossanto menegaskan bahwa tidak ada perusahaan yang membuat iklan untuk merugikan penjualan internal. Menurutnya perusahaan tidak mungkin membuat iklan kontroversial hanya untuk mencari eksistensi.

“Penjual selalu memikirkan keuntungan dalam penjualan produk. Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk tidak terlibat atau memihak saat terjadi sebuah konflik. Tindakan tersebut dapat mengurangi tingkat risiko yang terjadi di kemudian hari,” tuturnya.

Kemudian Prof Rossanto memberikan solusi ketika iklan perusahaan mendapat kecaman atau boikot dari masyarakat. Menurutnya ketika iklan tersebut sudah rilis sebaiknya melakukan penghapusan konten dan membuat permintaan maaf.

“Kalau iklan yang sudah perusahaan launching menimbulkan polemik di masyarakat maka mau tidak mau perusahaan harus menghapus iklan tersebut. Perusahaan jangan terfokus memikirkan masalah dana pembuatan iklan yang sudah keluar banyak, tetapi berpikir langkah strategis berikutnya untuk kembali membangun branding,” ungkapnya.

Penulis: Iratri Puspita

Editor: Nuri Hermawan