UNAIR NEWS – Kompetisi debat yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Manajemen, Politeknik Negeri Jember, tingkat regional Jawa Timur, membuktikan bahwa mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga juga mampu berkompetisi dalam bidang yang berbeda.
Kompetisi debat itu masuk dalam serangkaian acara Agribisnis Fair 2017. Topik debat berkaitan dengan agribisnis, topik yang cukup menjadi tantangan bagi mahasiswa FH UNAIR. Mengingat, biasanya, keikutsertaan mereka dalam kompetisi debat selalu berkaitan dengan bidang hukum.
Mereka adalah Dina mariana (2015) dan Shevierra Damadiyah (2016) selaku speakers, serta Sayyidatul Insiyah (2016), Sufenia Tirta (2014), dan Dedy Kurniawan (2016) sebagai tim riset, yang berhasil membawa pulang predikat juara III. Mereka tergabung dalam Badan Semi Otonom (BSO), Komite Mahasiswa Hukum Airlangga (KOMAHI).
“Kami merasa tertantang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Lagian tidak ada salahnya mengikuti kompetisi di luar bidang hukum yang temanya umum, meluas, serta beragam. Karena latar belakang pendidikan kita sosial, otomatis kita belajar mulai dari dasarnya. Kuncinya adalah membaca sesuai dengan temanya, yakni mengenai pertanian yang literaturnya kita temukan di perpustakaan UNAIR kampus B maupun kampus C,” ungkap Dina salah satu delegasi.
Kompetisi yang diadakan di Politeknik Negeri Jember, Jumat-Sabtu (5-7/4), ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur, seperti Universitas Brawijaya (UB), Universitas Jember (Unej), dan Institut Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya.
“Pada saat final kita mendapat mosi Gaya Kepemimpinan Otoriter Sebagai Jawaban Permasalahan Kesejahteraan dan kita diposisi pro. Sehingga, mau nggak mau, harus membawakan konsep otoriter itu sebagai sesuatu hal yang baik,” tutur mahasiswa angkatan 2015 tersebut.
Selama tidak kurang dari tiga minggu, tim melakukan berbagai persiapan, seperti melakukan riset dari jurnal, makalah, maupun skripsi yang bertema agribisnis. Delegasi FH UNAIR berhasil mengalahkan delegasi dari UB dan Unej dalam babak penyisihan. Dalam kompetisi debat itu, mereka menggunakan gaya british parlimentary sebagai model debat. Setiap pertandingan terdapat empat tim dengan sistem victory point.
“Kami bersyukur. Meskipun belum mendapat hasil yang maksimal, tapi kami percaya bahwa berapapun juaranya, ini sudah menjadi hasil dari kerja keras kami selama ini. Kami juga sudah melakukan yang terbaik dalam kompetisi ini,” imbuh Dina. (*)
Penulis : Pradita Desyanti
Editor : Binti Q. Masruroh





