UNAIR NEWS – Dari kecil sudah senang melihat video imam yang terkenal di dunia. Ditambah sebelum masuk kuliah diberikan pilihan oleh ayahnya antara kuliah sambil mondok atau kuliah sembari aktif mengurus masjid. Rizqi Zumar, kini menjadi imam muda Masjid Nuruzzaman Kampus B Universitas Airlangga.
Ditemui UNAIR NEWS pada Sabtu (2/6), mahasiswa jurusan Ekonomi Islam angkatan tahun 2015 itu menceritakan perjalanannya menjadi imam muda Masjid Nuruzzaman, Kampus B UNAIR. Diawali dengan menjadi anggota Departemen Kemakmuran Masjid (DKM), Zumar, sapaan akrabnya, mengatakan jika dirinya ikut menjadi panitia seleksi imam muda sekaligus mencontohkan cara menjadi imam di Masjid Nuruzzaman.
“Sebelumnya kan jadi muadzin di Masjid Nuruzzaman dan saat imam tidak ada saya juga diberi tanggung jawab untuk menggantikan menjadi imam. Jadi ditunjuk untuk mencontohkan kepada peserta,” tambahnya.
Zumar mengatakan, saat pengumuman hasil seleksi ternyata pihak takmir masjid Nuruzzaman menyatakan dua nama yang lolos menjadi imam muda, salah satunya dirinya. Namun, karena kesibukan rekannya, akhirnya Zumar lebih banyak untuk menjadi imam di Masjid Nuruzzaman tersebut. Mahasiswa asal Kediri itu menjadi muadzin sekaligus imam muda mulai semester tiga.
“Ini juga merupakan amanat dari ustadz di Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah untuk berdakwah selain di lingkungan pesantren juga di lingkungan kampus,” tambahya.
Saat ini selain menjadi mahasiswa UNAIR, Zumar juga sebagai santri di Pesantren Mahasiswa (pesma) Baitul Hikmah. Setelah beberapa kali ditolak untuk masuk pesma karena bukan jadwal pendaftaran, namun berkat keuletan dan kesungguhannya akhirnya Zumar bisa menuntut ilmu agama di pesma tersebut.
“Setelah diberi tahu diterima menjadi santri pesma, malam itu juga saya ke pesma dari Gresik dengan hanya berbekal satu tas berisi pakaian,” tambahnya.
Zumar mengaku kesibukannya saat ini dibagi menjadi tiga. Menjadi mahasiswa, santri, dan ikut mengurus masjid Nuruzzaman yang tergabung dalam DKM.
“Selain adzan dan imam, di Masjid Nuruzzaman saya juga membantu takmir misal ada kajian menyiapkan kebutuhannya, menyiapkan takjil, mengurus pengadaan barang dan fasilitas masjid, dan sebagainya,” ungkapnya.
Zumar mengaku amanat yang diberikannya itu cukup berat. Keadaan fisiknya memang mampu, namun dalam hal ke-istiqamahan (konsisten, red) dirinya mengatakan masih sangat sulit. Zumar juga mengatakan, hal itu menjadi pembelajaran bagi dirinya untuk terus menempa diri.
“Dengan adanya sistem imam muda ini, semoga bisa menjadi motivasi bagi para calon imam muda yang lain. Biasanya kan yang aktif di masjid dari imam sampai jamaah itu orang yang sudah tua, namun sekarang waktunya yang muda yang tampil apalagi di lingkungan kampus,” pungkasnya.
Penulis: M. Najib Rahman
Editor: Nuri Hermawan





