Universitas Airlangga Official Website

IME UNAIR Dorong Literasi Energi Bersih Berbasis IOT di Desa Wangkal Kepuh

Potret Sosialisasi Literasi Energi Bersih di Desa Wangkal Kepuh melalui Teknologi Pengering Berbasis IoT. (Foto Istimewa)
Potret Sosialisasi Literasi Energi Bersih di Desa Wangkal Kepuh melalui Teknologi Pengering Berbasis IoT. (Foto Istimewa)

UNAIR NEWS – Ikatan Mahasiswa Teknik Elektro (IME) Universitas Airlangga terus menunjukkan peran aktifnya dalam membumikan teknologi tepat guna bagi masyarakat. Lewat program Call for Pengmas SDGs Center UNAIR 2025, IME menggelar kegiatan sosialisasi energi terbarukan dan inovasi teknologi pertanian di Balai Desa Wangkal Kepuh, Kabupaten Jombang pada Sabtu (12/7/2025).

Program itu mendukung capaian SDGs poin 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) serta poin 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur). Sosialisasi ini sekaligus menjadi bentuk keberlanjutan dari pemasangan alat pengering hasil panen berbasis IoT yang sebelumnya telah diimplementasikan di desa tersebut oleh tim IME.

Dalam sesi utama, tim IME memaparkan konsep pemanfaatan energi surya dan pengenalan alat Solar Harvest yang dikembangkan secara mandiri. Teknologi ini mengandalkan panel surya dan sistem pemanas otomatis untuk mempercepat proses pengeringan hasil panen.

“Teknologi ini kami rancang untuk dapat digunakan masyarakat secara efisien, bahkan di malam hari, karena energi yang tersimpan di siang hari dapat dimanfaatkan lewat sistem baterai,” jelas Alfananda Ardiansyah, selaku Ketua Departemen Pengabdian Masyarakat IME.

Potret Diskusi Aktif saat Sosialisasi IME. (Foto Istimewa)

Sesi diskusi berlangsung interaktif. Salah satu warga, Bapak Edi Susilo, bertanya tentang efektivitas baterai dalam mempercepat proses kerja alat. Alfananda menjelaskan bahwa peningkatan kapasitas baterai memang berpengaruh, namun tetap harus didukung sistem manual seperti membalik sekam.

Sementara Saharani dari tim SDGs UNAIR menanyakan potensi pengembangan skala besar. Tim IME menawarkan konsep greenhouse dengan sistem multi-layer dan penyimpanan panas alami, meskipun membutuhkan investasi tambahan.

Menanggapi pertanyaan Ratna Candara Puspita soal biaya, Alfananda menyebut estimasi pengadaan alat sekitar Rp4–4,5 juta. Namun, biaya ini dapat ditekan jika masyarakat mampu merakit sendiri dengan pendampingan.

Kepala Desa Wangkal Kepuh, Bapak Nurhadi, menyampaikan apresiasi atas kegiatan edukatif tersebut. “Mahasiswa UNAIR datang bukan hanya membawa alat, tapi juga ilmu. Ini bekal penting bagi kami untuk menuju desa mandiri energi,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, IME UNAIR membuktikan bahwa sinergi antara teknologi, pendidikan, dan kearifan lokal dapat mendorong kemandirian desa. Langkah kecil ini menjadi bukti bahwa perubahan menuju pertanian modern dan berkelanjutan bisa dimulai dari desa.(*)

Penulis: Nafiesa Zahra

Editor: Khefti Al Mawalia