Universitas Airlangga Official Website

IMPACT Talkshow Ajak Mahasiswa Peduli Isu Kemanusiaan di Palestina

Suasana penyampaian materi dan sesi diskusi dalam Talkshow IMPACT (Foto: Dok. Panitia)

UNAIR NEWS – Isu kemanusiaan di Palestina kembali menjadi sorotan melalui talkshow Inspiring Mission for Palestine & Change (IMPACT). Kegiatan tersebut berlangsung di Hall Lantai 1, Masjid Nuruzzaman, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR. Acara ini merupakan rangkaian acara terakhir dari Ramadan Mubarak Airlangga (RMA) bersama Universitas Airlangga (UNAIR) pada Jumat (13/3/2026). 

Dalam sambutannya, Abdur Rouuf selaku ketua RMA berharap kegiatan ini dapat lebih membuka mata umat muslim untuk menyuarakan isu kemanusiaan yang ada di Palestina. Menurutnya, kondisi umat muslim saat ini sedang tidak baik-baik saja. 

Alhamdulillah, akhirnya kita sampai pada rangkaian acara terakhir RMA yaitu Grand Closing IMPACT. Sore ini, kita akan membahas tentang keadaan saudara-saudara kita yang ada di Timur Tengah. Sebab kondisi Islam saat ini benar-benar sedang dalam bahaya,” ungkapnya. 

Para pemateri dan peserta talkshow IMPACT berfoto bersama (Foto: Dok. Panitia)

Kegiatan ini tidak hanya membahas isu kemanusiaan yang sedang berlangsung di Palestina. Tetapi juga mengajak mahasiswa untuk memahami sejarah Baitul Maqdis serta dinamika politik yang menjadi faktor huru-hara di Timur Tengah. 

Baitul Maqdis atau nama lain dari Palestina memiliki arti tanah yang disucikan. Menurut Nur Pasca Aijijiyah selaku pembicara, Baitul Maqdis memiliki sejarah yang panjang dengan perjalanan kenabian. 

“Baitul Maqdis sangat melekat dengan sejarah perjalanan nabi. Di sana, terbangun sebuah masjid pertama untuk tempat beribadah oleh Nabi Adam AS yang kemudian secara struktur diperbarui oleh para nabi setelahnya,” tuturnya. 

Ia juga memaparkan bahwa Baitul Maqdis berada dalam kawasan Syam yang secara historis mencakup wilayah Palestina, Lebanon, Jordan, Sebagian Arab Saudi, dan Syria. Ardhul Muqaddasah merujuk pada wilayah suci yang menjadi pusat tiga agama besar dunia, yaitu Islam, Nasrani, dan Yahudi. 

Wilayah Baitul Maqdis dalam sejarahnya telah mengalami berbagai gejolak politik. Hal itu disampaikan oleh Izza Zulfatul Aufi. Ia melanjutkan, Perang Salib yang terjadi pada abad pertengahan berhasil memecah belah kondisi umat pada masa itu. Meski wilayah Baitul Maqdis berhasil direbut kembali pada era Salahuddin Al-Ayyubi. 

“Oleh karena itu, Rasulullah berpesan kepada umat muslim jangan sampai kita memalingkan pandangan dari Baitul Maqdis. Karena strategi pembebasan Baitul Maqdis sudah direncanakan Rasulullah mengikut pada ayat-ayat Al-Qur’an yang sepertiga isinya tentang Baitul Maqdis. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah, apabila pemikiran umat islam tercerahkan maka Baitul Maqdis dapat dibebaskan,” ujarnya. 

Pengurus Tahrir Al-Aqsha Surabaya itu juga menyoroti sejarah berdirinya Israel pada tahun 1948 yang disertai dengan peristiwa Nakba atau pengusiran besar-besaran warga Palestina dari tanah mereka. Hal tersebut menjadi salah satu akar konflik yang terasa hingga saat ini. 

Isu kemanusiaan yang masih bergejolak di Palestina menyadarkan umat muslim untuk tidak menutup mata. Pembebasan Baitul Maqdis tidak bisa dilakukan tanpa adanya pembebasan pemikiran umat Islam. 

Penulis: Amelia Farah Putri Iswara

Editor: Yulia Rohmawati