Alergi makanan dialami oleh 10% penduduk dunia dan angka kejadiannya terus meningkat dalam satu dekade terakhir. Alergi ini terjadi akibat paparan baik makanan yang baru dicoba ataupun yang sudah biasa dikonsumsi. Berdasarkan data tahun 2024, jenis makanan yang paling banyak menimbulkan alergi adalah makanan bersumber dari organisme laut terutama udang, kepiting, kerang dan ikan. Alergi udang dapat menimbulkan mual, muntah, diare, urtikaria, gatal dan manifestasi klinik lainnya. Hal yang paling membahayakan adalah terjadinya reaksi anafilaktik yang dapat mengancam jiwa bagi penderita alergi makanan tersebut. Prevalensi anafilaktik ini di Asia dan Amerika masing-masing sebesar 7,7% dan 2,3%.
Tropomyosin (TPM) merupakan protein spesifik pada udang yang mejadi sumber penyebab alergi. Protein ini juga mempunyai karakter sebagai penyebab silang alergi makanan laut lainnya. Angka ini dilaporkan sekitar 23–83% penderita alergi. Selain itu, IgE spesifik alergen terhadap ekstrak udang terdeteksi pada 94% penderita alergi lainnya. Ini menyiratkan bahwa alergen kepiting, kerang, ikan laut, ataupun makanan laut lainnya berpeluang besar akan mengalami alergi udang. Bagi individu yang sensitif terhadap allergen tersebut, bahkan sejumlah kecil makanan alergen dapat memicu reaksi yang parah. Akibatnya, hampir 50% pasien dengan alergi udang memerlukan setidaknya satu perawatan darurat akibat paparan alergen yang tidak disengaja. Reaksi alergi dimulai ketika seseorang terpapar alergen baik inhalan maupun ingestan akan memicu aktivasi sitokin alarmin, yang berlanjut pada respons sel Th2 dengan memproduksi sitokin tipe-2. Ini akan mendorong produksi IgE spesifik alergen oleh sel B untuk menginduksi terjadinya sensitisasi. Paparan berulang terhadap alergen dapat memicu degranulasi sel mast dan melepaskan mediator inflamasi seperti sitokin, histamin, dan prostaglandin, yang menyebabkan reaksi hipersensitivitas. Sayangnya, saat ini tidak ada obat untuk alergi makanan. Satu-satunya strategi manajemen yang dapat digunakan adalah menghindari alergen makanan dan mengobati gejala dengan adrenalin dan antihistamin.
Imunoterapi alergen (IA) telah muncul sebagai strategi terapi terbaru yang menjanjikan dapat mengobati alergi makanan melalui desensitisasi. Fase desensitisasi bertujuan untuk membatasi reaksi alergi dengan menginduksi toleransi alergen melalui pengurangan rasio sel Th2/Th1, seiring dengan pengurangan sitokin seperti IL-4. Toleransi imunitas disertai dengan peningkatan jumlah sel T regulator (Treg), yang memainkan peran penting dalam menjaga homeostasis imun dan diatur oleh faktor transkripsi forkhead box P3 (Foxp3). Aktivasi sel Treg menghasilkan produksi IL-10 dan TGF-β, yang merangsang produksi IgG dan IgA serta menekan IgE. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa IA dapat menjadi terapi yang efektif untuk alergi. Penggunaan imunoterapi oral (OIT) dengan ovalbumin menekan reaksi alergi pada tikus dengan meningkatkan jumlah sel Treg, menekan IgE spesifik alergen, sel basofil, MC, dan IL-4. Selain itu, imunoterapi sublingual kacang tanah dapat menyebabkan desensitisasi, yang dapat dimediasi oleh penurunan reaktivitas sel imunitas dan peningkatan respons IgG4 dan IgA.
Pada penelitian yang telah dilakukan di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga menunjukkan bahwa ekstrak alergen udang (SAE) merupakan agen imunoterapi potensial untuk mengobati alergi udang. SAE diharapkan dapat memperluas target untuk induksi toleransi alergi, mengingat bahwa komponen dalam SAE mempunyai karater reaksi silang. Penelitian kami telah berhasil membuat model alergi gastro-makanan, dan pemberian SAE dalam tiga dosis berbeda secara efektif dapat menimbulkan desensitisasi pada tikus alergi. Namun, mekanisme SAE dalam menginduksi toleransi imun masih belum diketahui dengan baik. Oleh karena itu, dengan mempertimbangkan perlunya penyembuhan alergi yang efektif, kami mengevaluasi perubahan seluler dan molekuler dalam model tikus alergi gastro-makanan akibat desensitisasi SAE.
Dalam penelitian ini, kami menemukan bahwa SAE dapat menginduksi toleransi imun bahkan setelah penghentian pemberian AIT, yang menunjukkan efek jangka panjang yang menjanjikan. Temuan ini mendukung konsep yang muncul bahwa SAE berpotensi untuk menyembuhkan alergi makanan laut. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas SAE dalam menginduksi toleransi imunologis pada model tikus alergi gastro-makanan. Sebagai hasilnya, kami menemukan bahwa imunoterapi SAE mengurangi skor gejala alergi sistemik, kadar IL-4 serum, ekspresi relatif mRNA IL-4 dan FcεR1α, dan degranulasi sel mast di jaringan ileum pada tikus alergi sambil meningkatkan ekspresi relatif mRNA Foxp3 dan IL-10. Khususnya, kami mengamati peningkatan rasio ekspresi mRNA IL-10 terhadap IL-4, yang menunjukkan kemanjuran imunoterapi SAE dalam mendorong desensitisasi. Dengan demikian, SAE dapat dikembangkan sebagai agen imunoterapi untuk alergi makanan dengan menginduksi toleransi alergi yang berkepanjangan dengan berbagai target alergen.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa SAE dapat secara efektif mengobati alergi makanan dan berpotensi dikembangkan sebagai agen imunoterapi dengan menginduksi toleransi alergi. Oleh karena itu, penelitian lanjutan untuk lebih jauh menetapkan keamanan dan kemanjuran imunoterapi SAE diperlukan.
Penulis : Honey Dzikri Marhaeny, Lutfiatur Rohmah, Yusuf Alif Pratama, Salsabilla Madudari Kasatu, Andang Miatmoko, Rafi Addimaysqi, Geert van den Bogaart, Franz Y. Ho, Muhammad Taher, Junaidi KhotibÂ
- DOI: https://doi.org/10.1371/journal.pone.0315312
- Laman: https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0315312#sec024
- ISSN: 19326203
- Publisher: Public Library of Science





