كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ ثُمَّ اِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ (Arab-Latin): “Kullu nafsin żā`iqatul-maụt, ṡumma ilainā turja’ụn”. Artinya: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. (QS. Al Ankabut: 57).
Saya sangat paham dengan ayat di atas tentang kematian yang difirmankan Allah di Al-Qur’an karena setiap saya ngaji tentu saya membaca surat itu. Meskipun saya mengerti bahwa dari ayat itu bermakna bahwa umur manusia itu milik Allah. Namun, saya terkejut ketika mendengar kabar di berbagai WA grup alumni UNAIR tentang wafatnya Prof Dr Musta’in Mashud Drs M Si. Padahal sehari sebelum beliau wafat, tepatnya di hari Senin (2/9/2024). Saya bertemu beliau di depan ruang kantor kami Komite Audit UNAIR dan berbincang-bincang sebentar dengan senyumnya yang khas dan santun. Sebelum pertemuan singkat itu, ketika menuju kamar kecil di ruang Senat Guru Besar UNAIR yang berdampingan dengan ruang Komite Audit UNAIR. Saya sempat mendengar dari ruang kantor Ketua Senat UNAIR Prof Djoko Santoso, Prof Musta’in tertawa lepas bersama Prof Djoko Santoso.
Almarhum masuk FISIP UNAIR tahun 1979 sementara saya masuk FE UNAIR tahun 1973. Meskipun beda angkatan dengan saya sekitar enam tahun, namun saya memiliki kekaguman kepada almarhum Prof Musta’in. Terutama soal Intellectual Credential atau kredensial intelektual miliknya dalam masalah-masalah sosial, budaya, politik, dan pendidikan. Saya sering bertemu dan berdiskusi dengan almarhum ketika rapat rutin Majelis Wali Amanat (MWA) UNAIR, kebetulan almarhum adalah anggota MWA, cara bicaranya sangat santun.
Saya juga menyaksikan betapa sosok Prof Musta’in ini sebagai seorang guru besar yang memiliki tanggung jawab besar dalam proses ajar mengajar. Ketika saya satu gerbong Kereta Api menuju Yogyakarta untuk menghadiri rapat Majelis Wali Amanat UNAIR. Saya menyaksikan almarhum duduk memangku sebuah laptop dan berbicara serius menggunakan earphone dengan lawan bicaranya, nampaknya di aplikasi zoom. Saya duduk di kursi di belakang sebelah kanan almarhum sehingga bisa jelas menyaksikan betapa seriusnya almarhum berdiskusi.
Setelah KA hampir masuk Kota Yogyakarta saya tanya “sibuk Prof?”, almarhum menjawab “lagi menguji S3 mahasiswa luar pulau Pak Cholis”. Di tengah kesibukannya dan di atas KA beliau masih menyempatkan diri untuk menguji mahasiswa pascasarjana. Itulah tanggung jawab beliau sebagai seorang guru besar.
Saat rapat MWA UNAIR di Pulau Lombok. Saya sempat duduk bersebelahan dengan beliau di kendaraan yang UNAIR sewa, berdiskusi tentang current issues dari mulai persoalan politik, budaya, pendidikan, sampai soal sosiologi masyarakat Indonesia. Saya memiliki kesan bahwa beliau betul-betul seorang pakar di bidangnya, sangat memahami persoalan. Intellectual credential miliknya tidak perlu diragukan.
Saya yakin seluruh sivitas akademika Universitas Airlangga sangat kehilangan seorang Guru Besar yang santun ini.
Selamat Jalan Prof..!





