UNAIR NEWS- Media sosial kini tak hanya menjadi ruang berbagi cerita, tetapi juga sarana yang mengubah cara masyarakat menikmati pariwisata. Hal itu yang Nabila Nur Faiza Fadly, Indonesia Tourism Ambassador 2025, dalam acara SOURTY 3.0 (Sustainable Tourism and Hospitality) persembahan Himpunan Mahasiswa Manajemen Perhotelan Universitas Airlangga (UNAIR) di Majapahit Hall, lantai 5 ASEEC Tower.
Mengangkat tema “Embracing Madura’s Culture, Innovating with Technology”, kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk melihat bagaimana inovasi digital dapat beriringan dengan pelestarian budaya lokal dan prinsip keberlanjutan.
Digitalisasi dan Dampaknya bagi Pariwisata
Dalam pemaparannya, Nabila menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah cara wisatawan mencari, memilih, hingga menikmati destinasi wisata. Melalui media sosial, informasi tentang tempat wisata kini dapat tersebar luas hanya dalam hitungan menit. Fenomena ini membuat pariwisata semakin mudah diakses oleh semua kalangan.
Sebagai contoh, Nabila menyinggung kisah viralnya Pantai Gua Cina di Malang Selatan. Tempat yang dulunya hanya dikenal oleh warga sekitar, kini berkembang pesat setelah viral di media sosial pada 2023. Perubahan ini menunjukkan bagaimana digitalisasi mampu memberi dampak ekonomi bagi masyarakat lokal.
“Kalau dulu traveling itu eksklusif, sekarang siapapun bisa menjelajah. Cukup satu video viral, jutaan orang bisa tahu tempat baru,” ujar Nabila.
Transformasi Pariwisata Digital
Nabila kemudian memperkenalkan tiga pilar utama yang menggambarkan perubahan besar akibat era digital: Democratisation of Tourism, Experience Before Visiting, dan Expectation vs Reality.
Melalui demokratisasi wisata, masyarakat dari berbagai latar belakang kini dapat menikmati pariwisata tanpa hambatan besar. Sementara itu, fenomena experience before visiting memungkinkan calon wisatawan “merasakan” destinasi sebelum berkunjung, namun juga menimbulkan risiko overturisme dan ketidaksesuaian ekspektasi.
Ia mengingatkan bahwa tidak semua destinasi mampu menampung lonjakan pengunjung yang datang secara bersamaan akibat konten viral. Dalam banyak kasus, hal itu justru berpotensi menurunkan kualitas pengalaman wisata dan mengganggu keseimbangan lingkungan.
Ditengah paparan materi, Suasana semakin hidup saat Nabila mengajak peserta bermain tebak gambar destinasi wisata. Siapa yang bisa menebak dengan cepat, langsung mendapat hadiah spesial berupa lilin aroma terapi hasil buatannya sendiri.
“Aku senang bereksperimen dengan limbah kertas dan mengubahnya jadi lilin aroma terapi. Dari hal kecil seperti ini, kita bisa belajar bahwa kesadaran lingkungan bisa dikemas jadi sesuatu yang bermanfaat,” katanya dengan senyum hangat.
Menutup sesinya, Nabila mengajak peserta untuk lebih bijak dalam memanfaatkan digitalisasi agar tetap sejalan dengan prinsip pariwisata berkelanjutan. Menurutnya, setiap orang memiliki tanggung jawab dalam menjaga keseimbangan antara promosi wisata dan pelestarian alam maupun budaya lokal.
Penulis : Saffana Raisa Rahmania
Editor : Ragil Kukuh Imanto





