UNAIR NEWS – Para pustakawan diharapkan mampu mengubah pola fikir untuk menjadi mitra bagi peneliti di perguruan tinggi. Sebab, di tengah target untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas penelitian terpublikasi, mustahil target tersebut bisa dicapai tanpa kontribusi aktif dari pustakawan.
Pernyataan itulah yang mengemuka dalam seminar dan workshop “Perpustakaan dan Pustakawan Inovatif, Kreatif di Era Digital”, Rabu (3/5), di Hotel Swiss-Bellinn. Ida Fajar Priyanto, narasumber dalam seminar yang diselenggarakan Perpustakaan Universitas Airlangga tersebut mengatakan, di era digital seperti sekarang, pustakawan harus bersahabat dengan perkembangan internet, termasuk media sosial.
“Sekarang sudah tidak zamannya lagi untuk mencantumkan website. Kita yang harus masuk ke dunianya anak muda seperti Instagram, Facebook, dan Twitter. Pustakawan juga harus dressing up dengan search engine optimization (SEO). Karena orang zaman sekarang, ketika mereka membutuhkan informasi, mereka langsung cari di Google dan Wikipedia. Jika perlu, perpustakaan juga harus berkolaborasi dengan lembaga seperti Wikipedia,” tutur Ida.
Selain itu, pustakawan sebagai garda depan informasi, sebaiknya juga bersikap responsif terhadap perkembangan isu-isu terkini. “Misal, lagi ribut tentang hoax. Perpustakaan harus masuk ikut andil di situ. Kita (pustakawan) terangkan tentang hoax di media sosial. Kita ikut masukkan informasi yang baik secara benar. Inilah tugas pustakawan yang out of the box,” imbuhnya.
Pernyataan Ida juga diamini oleh Ketua Lembaga Penelitian dan Inovasi UNAIR Prof. Hery Purnobasuki, Ph.D, yang juga menjadi narasumber dalam seminar tersebut. Hery mengatakan, pustakawan sebenarnya memiliki peran vital dalam proses penelitian. Misalnya, memenuhi kebutuhan para peneliti tentang informasi jurnal-jurnal predator, membuat ringkasan mengenai literatur-literatur ilmiah serta mencarikan sumber referensi yang dibutuhkan peneliti.
Selain itu, di tengah target peningkatan kuantitas dan kualitas publikasi penelitian, para pustakawan diharapkan segera jemput bola ke para peneliti.
“Misalnya, ada dosen yang belum memiliki publikasi. Pustakawan bisa mendatangi peneliti tersebut, juga bertanya apakah ada kesulitan dalam mencari referensi-referensi ilmiah. Pustakawan harus responsif dengan pekerjaan seperti itu,” terang Hery.
Selain itu, pustakawan diharapkan juga memiliki publikasi ilmiah maupun ilmiah populer. Menurutnya, sebagai garda depan informasi, pustakawan selalu dikelilingi dengan informasi-informasi baru. Sehingga, tak ada salahnya bagi pustakawan untuk menjajal kemampuan menulisnya mengenai isu-isu yang menjadi perhatian masyarakat.
Selain kedua narasumber di atas, ada pula Kepala Perpustakaan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Faizuddin Harliansyah. Faizuddin menerangkan, pustakawan diharapkan bisa membantu para sivitas akademika untuk mengidentifikasi literasi infomasi yang dibutuhkan. Caranya, adalah dengan membuat ringkasan-ringkasan literatur ilmiah yang menjadi koleksi di perpustakaan.
“Sebelum pustakawan mengajari sivitas akademika mengenai literatur ilmiah, mereka harus melek terlebih dulu dengan informasi. Mereka harus bisa mengenal saluran ilmiah yang tepat dan jurnal mana yang memiliki performa yang tepat,” tutur Faizuddin.
Penulis: Defrina Sukma S
Editor : Nuri Hermawan





