UNAIR NEWS – Menempuh pendidikan hingga ke luar negeri melalui beasiswa merupakan kesempatan emas bagi setiap mahasiswa. Guna wadahi mahasiswa dalam meraih kesempatan itu, American Corner UNAIR bersama Development Study Club menggelar webinar bertajuk “Fulbright for Social Science” pada Jumat (27/1/2023). Dalam webinar tersebut, turut hadir Miftahul Mardiyah selaku Associate Communications Officer AMINEF serta Myrtati Dyah Artaria, fulbrighter 1993.
Miftahul Mardiyah mewakili AMINEF, organisasi pengelola beasiswa Fulbright, menjelaskan bahwa program Fulbright merupakan beasiswa pertukaran pendidikan terkemuka Amerika Serikat yang bekerja sama dengan pemerintah Indonesia. Program itu ditawarkan kepada mereka yang berasal dari berbagai latar belakang akademik, seperti halnya mahasiswa, dosen, seniman, guru, dan lainnya.
“Melalui beasiswa ini, para awardee dapat tergabung dalam berbagai kegiatan, seperti penelitian, kegiatan pengajaran, pengayaan, yang tujuannya adalah untuk mendekatkan hubungan antara Indonesia dengan Amerika Serikat,” kata Miftah.
Sementara itu, Myrtati sebagai awardee beasiswa tersebut melanjutkan sesi webinar dengan memberikan tips lolos beasiswa Fulbright. Pertama, dalam mendaftar suatu beasiswa, aspek akademik hampir pasti selalu menjadi kriteria utama. Hal itu pun senada dengan apa yang disampaikan oleh Myrta. Menurutnya, memiliki keunggulan secara akademik menambah potensi bagi calon awardee agar dapat lolos seleksi.
“Jadi, secara akademik, saya selalu berusaha menjadi yang paling unggul di antara teman-teman saya. Karena saya tahu, itu akan menjadi salah satu syarat agar bisa tembut beasiswa,” ujar Myrta.
Kedua, aspek psikologis juga menjadi hal yang penting. Kesiapan aspek psikologis, imbuh Myrta, merupakan salah satu penentu lolos atau tidaknya para awardee. Pasalnya, aspek psikologis akan berpengaruh terhadap aspek-aspek lain, termasuk komunikasi.
Secara langsung maupun tidak, kondisi psikologis akan berpengaruh terhadap cara awardee dalam menjawab pertanyaan saat tahap seleksi wawancara. Misalnya saja muncul rasa ragu secara tiba-tiba, rasa gugup dan tidak percaya diri, sehingga menghambat proses seleksi.
“Saat wawancara, kita perlu mempersiapkan bagaimana cara kita menjawabnya. Misalnya kita menjawab dengan tone yang ragu, ini sangat riskan karena mungkin saja bisa dianggap mengarang,” terang Myrta.
“Penguasaan terhadap bahasa Inggris, termasuk pengungkapan, cara menjawab, pronouns juga harus diperhatikan,” tambahnya.
Di akhir, dosen Antropologi FISIP UNAIR tersebut menambahkan, terdapat unsur-unsur lain yang patut menjadi perhatian calon awardee, seperti pembawaan diri, gaya pakaian, hingga kondisi ruangan sekitar. Menurutnya, meskipun terkesan sederhana, tetapi unsur-unsur tersebut dapat memengaruhi rasa percaya diri serta kontrol diri saat menjalani tahap seleksi.
“Persiapan itu butuh hal-hal detail. Kalau semuanya sudah matang dan berlangsung lancar, maka kemungkinan lolos akan lebih besar,” tutupnya.
Penulis: Yulia Rohmawati
Editor: Khefti Al Mawalia





