Universitas Airlangga Official Website

Inklusivitas jadi Landasan BEM FISIP Usung Kabinet Raya Karya

Momen Serah Terima Jabatan (Sertijab) BEM FISIP UNAIR Periode 2026. Giga Tarangga Yudha (tengah) secara resmi memegang tongkat estafet kepemimpinan untuk mewujudkan visi kampus berdampak lewat Kabinet Raya Karya (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR) resmi memulai lembaran baru kepengurusannya. Pasangan Giga Tarangga Yudha dan Nauval Dzakwan Ernada kini memegang tongkat estafet kepemimpinan periode 2026 di lingkungan Kampus Dharmawangsa-B. Dengan semangat baru, keduanya meluncurkan Kabinet Raya Karya yang dengan semboyan kuat berbunyi “MeRaya Bersama Ciptakan Karya”.

Selaku ketua BEM, Giga menjelaskan bahwa pemilihan nama kabinet tersebut merupakan bentuk komitmen untuk menciptakan ruang pergerakan yang merangkul semua pihak. Ia sangat berharap inklusivitas tersebut dapat memberikan manfaat nyata yang terasa langsung oleh seluruh arek-arek FISIP. “BEM ini bukan wadah eksklusif tapi inklusif. Di mana semua orang berhak untuk bersuara dan berkarya bersama,” tegas mahasiswa Ilmu Politik tersebut.

Kabinet baru ini membawa visi besar untuk menciptakan ruang berkarya yang progresif dan berdampak bagi masyarakat berlandaskan tridharma perguruan tinggi. Namun, Giga menyadari bahwa visi tersebut hanya bisa tercapai apabila mereka memiliki fondasi internal organisasi yang sangat kokoh. “Kami ingin internal yang baik terlebih dahulu, karena itu adalah kuncinya untuk membuat lingkungan kerja yang hebat,” ungkapnya.

Bergerak ke arah perancangan program, Kabinet Raya Karya berkomitmen penuh mendukung inisiatif kampus berdampak melalui edukasi kekerasan seksual dan sekolah politik. Realisasi program berupa pengabdian masyarakat tersebut semakin terjamin berkat adanya dukungan pendanaan Sustainable Development Goals (SDGs) yang pernah BEM FISIP raih. “Pengabdian yang konsisten dan berdampak ini tidak perlu jauh ke desa, tapi bisa dimulai dari lingkungan terdekat,” ujar Giga.

Lebih lanjut, untuk merealisasikan seluruh program tersebut, pembenahan internal diperlukan melalui perombakan pada beberapa kementerian agar kinerja menjadi efisien. Dalam mendukung perombakan itu, mereka turut menanamkan budaya kerja kekeluargaan yang lebih fleksibel dan tidak menekan bagi para fungsionaris. “Dengan ikatan kekeluargaan yang erat, maka akan tumbuh rasa kepemilikan atau sense of belonging yang kuat pula terhadap organisasi ini,” papar Giga.

Sebagai penutup, Giga mengajak seluruh mahasiswa FISIP UNAIR untuk terus memantau dan mengawal setiap pergerakan kabinetnya selama satu periode ke depan. Ia berpesan agar mahasiswa tidak pernah takut menggunakan fasilitas BEM serta berani bersuara karena BEM adalah pelayan mahasiswa. “Kami tidak membawa hal kosong, di sini kami sudah merancang program dengan sangat matang sebagai bentuk pengabdian,” tegas Giga.

Penulis: Muhammad Yasir Dharmawan D.

Editor: Yulia Rohmawati