Universitas Airlangga Official Website

Inovasi Maggopedia Karya Mahasiswa UNAIR Sabet Most Feasible Plan dan Best Speaker

Tiga Ksatria Airlangga penggagas Maggopedia raih Most Feasible Plan dan Best Speaker IDEAS (Foto: Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Kolaborasi lintas prodi oleh Ksatria Airlangga berhasil menyabet Most Feasible Plan dan Best Speaker dalam kompetisi Indonesia Studentpreneur (IDEAS). Mereka adalah Usamah (Teknik Lingkungan), Natasya Alifia Putri Febriani (Manajemen), dan  Ah. Dliya’ul Adlha Jamalul Lail (D4 Teknik Informatika). Mereka mengikuti kompetisi yang diselenggarakan oleh Manajemen UGM tersebut pada Selasa (8/7/2025) hingga Kamis (10/7/2025).

Kompetisi IDEAS kini telah memasuki batch yang ke-11 dan menjadi salah satu kompetisi bergengsi di Indonesia. Dalam kompetisi ini, ketiga Ksatria Airlangga tersebut harus melawan lebih dari 600 tim ketika tahap Lean Canvas, dan 120 tim ketika tahap submisi proposal sehingga menyisakan 8 finalis. “Pada tahap akhir kami bertanding dengan delapan tim yang mayoritas angkatan atas. Kami yang angkatan 2024 sendiri di antara delapan finalis dan belum pernah ikut lomba bisnis,” tutur Usamah.

Mereka membuat sebuah platform berupa ekosistem terintegrasi yang menghubungkan para penghasil sampah organik. Misalnya masyarakat, pasar, dan hotel, restoram, kafe pembudidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), serta industri yang membutuhkan supply maggot seperti peternakan, dan sebagainya. 

“Ekosistem yang kami bentuk ini berdasarkan pada fakta bahwa 51,86 persen sampah di Indonesia itu sampah organik dan 13,5 juta di antaranya tidak terkelola. Kami juga melihat bahwasa banyak peternak maggot di area Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Malang yang memiliki problematika kekurangan supply bahan budidaya berupa limbah organik,” terang Usamah.

Asumsi ini mereka validasi dengan survei ke target pasar secara langsung dengan melakukan wawancara dengan para peternak maggot independen dan pemerintah kota. Sehingga sebuah platform berbasis ekosistem terintegrasi dengan beragam fitur mereka cetuskan, yaitu Maggopedia.

Maggopedia memiliki empat fitur utama dengan menyasar penduduk usia 17-40 tahun yang sudah menggunakan internet dan memiliki awareness terhadap lingkungan. Fitur-fiturnya antara lain yaitu Maggot Collect, Maggot Station, Maggot Marketplace, dan Maggopedia Academy.

Maggot Collect adalah layanan penjemputan sampah organik dari masyarakat atau institusi penghasil sampah organik. “Sementara itu, Maggot Station merupakan fitur pembudidayaan maggot BSF yang menerima sampah organik dan akan menjual produknya di marketplace kami,” imbuhnya.

Dua fitur lainnya yakni Maggot Marketplace berfungsi sebagai tempat jual beli produk budidaya maggot (Maggot Marketplace) dan Maggopedia Academy untuk memberikan layanan pelatihan serta edukasi untuk peningkatan kapasitas peternak/calon peternak maggot. Semuanya dibuat dalam ekosistem terintegrasi, namun tetap modular dengan mempertimbangkan berbagai komisi.

“Kami juga mengusung fitur- fitur pendukung lainnya seperti leaderboard, chatbot sekaligus CS bersama Meggi, reward dan point, serta program CSR untuk meningkatkan loyalitas pengguna. Kami sudah membuat platform dalam bentuk aplikasi dan kami perlihatkan kepada para calon pengguna kami saat memvalidasi pasar, ternyata respons mereka sangat sangat tertarik,” tambah Usamah.

Dalam inovasi ini menjunjung tinggi standar kerja yang profesional dan mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-8, 11,  12, dan 13 melalui pengelolaan limbah, pembukaan lapangan pekerjaan, dan penanganan krisis iklim secara tidak langsung.

“Kami juga percaya, dengan bisnis ini, bisnis bukan hanya sekedar efisien tapi juga bermakna. Bahwa bisnis bukan hanya sekadar soal untung, namun juga berdampak. Sehingga, hal tersebut yang mengantar kami, tim Larva, menjadi tim yang dinilai sangat siap untuk merealisasikan ide bisnis ini hingga bisa membawa dampak banyak untuk orang sekitar,” ucapnya.

Penulis: Arifatun Nazilah

Editor: Yulia Rohmawati