GRESIK – Sebagai upaya konkret dalam penanganan limbah plastik dan peningkatan ketahanan pangan skala rumah tangga, Kelompok Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 Universitas Airlangga melaksanakan program sosialisasi “Budidaya Ikan Lele Menggunakan Galon Bekas”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 25 Januari 2026, bertempat di Joglo Makam Nyai Dewi Sekardadu, Kelurahan Ngargosari, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik.
Program kerja ini diinisiasi berdasarkan pengamatan terhadap masih banyaknya limbah plastik, khususnya galon bekas, yang belum dimanfaatkan secara maksimal di wilayah tersebut. Para mahasiswa berupaya mewadahi warga untuk mengubah limbah tersebut menjadi sarana budidaya ikan lele yang bernilai ekonomis dan konsumtif.
“SDG utama yang terlibat dalam program kerja ini adalah SDG 12, yaitu Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Kami mengimplementasikan metode reuse, mengubah barang tak terpakai menjadi barang yang memiliki nilai guna kembali,” ungkap perwakilan tim BBK 7 dalam pemaparannya.
Dalam sosialisasi tersebut, warga diedukasi mengenai teknis budidaya yang sederhana namun efektif. Galon bekas dimodifikasi dengan pemasangan kran air di bagian bawah untuk mempermudah pembuangan kotoran (feses) dan sisa pakan yang mengendap. Pergantian air disarankan dilakukan setiap 5-7 hari sekali atau ketika air mulai keruh. Untuk perawatan harian, pemberian pakan dilakukan dua kali sehari, yakni pada pukul 07.00-08.00 pagi dan 16.00-17.00 sore. Sebagai alternatif pelet, warga juga dikenalkan pada pakan alami seperti daun pepaya, magot, cacing, ampas tahu, atau usus ayam. Setiap galon dapat menampung 5-15 ekor benih atau 2-5 ekor lele ukuran konsumsi.
Keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari kolaborasi antara mahasiswa KKN dengan tokoh masyarakat setempat, mulai dari Ibu Lurah Ngargosari, Ketua RT 01, hingga Bunda Fathim selaku pendidik PAUD setempat yang memfasilitasi koordinasi dengan warga.
Selain mendukung kelestarian lingkungan (SDG 12), program ini juga menyasar Tujuan Pembangunan Berkelanjutan lainnya. Di antaranya adalah SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penyediaan sumber protein mandiri dan potensi usaha rumahan. Selain itu, budidaya darat ini turut mendukung SDG 14 (Ekosistem Laut) dengan mengurangi tekanan penangkapan ikan di alam. Di akhir sesi, para peserta mendapatkan output nyata berupa paket instalasi galon bekas beserta ikan lele yang siap dikelola di rumah masing-masing. Peserta juga telah dibekali pengetahuan mengenai cara merawat ikan yang sakit hingga opsi pengolahan pasca panen, seperti pembuatan lele marinasi siap jual. Harapannya, inisiatif ini dapat menjadi pemantik bagi warga Ngargosari untuk mengembangkan budidaya perikanan yang lebih masif, sehingga dapat memajukan sektor perikanan lokal sekaligus memberikan pendapatan tambahan bagi keluarga.
Penulis : Mahasiswa BBK 7 Desa Ngargosari





