Universitas Airlangga Official Website

ISoPH-ICoEPH 2025 Angkat Isu Kesehatan Global, Dari Game Edukasi hingga Kesehatan Perempuan

Sesi foto bersama 9th International Symposium of Public Health (ISoPH) sekaligus 1st International Conference of Epidemiology Public Health (ICoEPH), (Foto: Istimewa)
Sesi foto bersama 9th International Symposium of Public Health (ISoPH) sekaligus 1st International Conference of Epidemiology Public Health (ICoEPH), (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) menyelenggarakan The 9th International Symposium of Public Health (ISoPH) and 1st International Conference of Epidemiology Public Health (ICoEPH) pada Hari Rabu dan Kamis (24/09/2025-25-09-2025). Acara yang bertajuk Revolutionizing Public Health : Innovations and Strategies for a Resilient Future ini berlangsung di Hotel Morazen Surabaya.

Game sebagai Sarana Edukasi Kesehatan

Pada hari ke-2 konferensi menghadirkan dua narasumber internasional dan satu narasumber nasional. Mereka adalah Dr Rosliza Abdul Manaf (Universiti Putra Malaya, Malaysia), Dr Bernadette O’Hare (School of Medicine University of St Andrews North Haugh, Scotland), dan Prof Hanifa Maher Denny, S KM, MPH, Ph D (Universitas Diponegoro, Indonesia).

Sesi pemaparan materi pertama menghadirkan Dr Rosliza Abdul Manaf dari Universiti Putra Malaya dengan tema ‘A Game Based Public Health Approach’. Ia menekankan bahwa game dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi kesehatan publik. Dalam materinya, ia memberikan contoh permainan VAPGAMO, sebuah game berbasis teori Planned Behavior. Permainan ini ia rancang untuk melatih keterampilan remaja dalam menolak ajakan vaping dengan pendekatan interaktif, menyenangkan, serta relevan.

Sesi FGD dari acara 9th International Symposium of Public Health (ISoPH) dan 1st International Conference of Epidemiology Public Health (ICoEPH), Kamis (25/9/2025) (Foto: Istimewa)

Selain itu, Dr Rosliza juga menampilkan demo permainan VAPGAMO. Ia menegaskan bahwa aspek hiburan menjadi sangat penting agar kegiatan edukasi kesehatan tidak terasa membosankan. “Jika kita menginginkan masa depan yang lebih sehat, kita perlu menjangkau remaja di lingkungan mereka. Termasuk melalui platform digital atau permainan yang mereka mainkan,” Pungkas Dr Rosliza.

Sistem Pajak yang Lemah, Memperburuk Kesehatan Global

Materi selanjutnya oleh Dr Bernadette O’Hare dari School of Medicine University of St Andrews North Haugh, Scotland. Dalam materinya,  Ia menjelaskan bahwa sistem pajak memiliki peran krusial dalam menciptakan masyarakat yang sehat dan berketahanan.

Selanjutnya, ia menekankan banyaknya penyakit dan kematian terjadi berasal dari aktivitas komersial yang merugikan kesehatan. “Ketika sistem pajak gagal merepresentasikan kepentingan publik, pemerintah kehilangan kemampuan untuk melindungi rakyatnya,” ujarnya.

Dr Bernadette menyebutkan tiga langkah penting yang dapat kita akukan untuk meminimalisir dampak negatif aktivitas komersial terhadap kesehatan. Langkah tersebut yakni mencegah penyalahgunaan pajak korporasi, memperkuat regulasi dana pengawasan, dan yang paling penting adalah menerapkan pajak kesehatan seperti cukai rokok dan minuman berpemanis yang terbukti berdampak negatif kesehatan masyarakat.

“Ketimpangan global dan lemahnya sistem pajak membuat pemerintah kehilangan daya untuk melindungi rakyatnya. Kita perlu reformasi fiskal yang berpihak pada kesehatan dan keadilan,” tegas Dr Bernadette.

Perempuan Berhak atas Keselamatan dan Kesejahteraan

Kegiatan berlanjut dengan pemaparan materi oleh Prof Hanifa Maher Denny, SKM, MPH, Ph D dari Universitas Diponegoro, Indonesia. Dalam pemaparannya yang berjudul Womens Health and Well-Being at Work: Risk, Realities, and Implications, Prof Hanifa mengungkapkan pentingnya kesehatan dan kesejahteraan perempuan sebagai kunci produktivitas nasional. Ia menyebutkan bahwa seringkali perempuan menghadapi beban ganda bahkan tiga kali lipat dalam ranah pekerjaan, rumah tangga, maupun sosial.

Selain itu, data yang Prof Hanifah paparkan menunjukkan 70% tenaga kerja dunia terdiri dari perempuan. Meskipun perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki, justru rentan mengalami permasalahan kesehatan fisik dan mental, mulai dari siklus biologi seperti beban kehamilan, hingga tekanan sosial. “Perempuan di dunia ini penting untuk memiliki lebih banyak perlindungan dalam hal keselamatan dan kemampuan,” pungkasnya.

Penulis: Muhammad Nabil Fawaid

Editor: Ragil Kukuh Imanto