UNAIR NEWS – Sejak diterjunkan ke lokasi terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor, Tim Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga (RSKKA) Universitas Airlangga (UNAIR) terus menyediakan berbagai layanan medis untuk masyarakat terdampak. Sabtu (13/12/2025), tim tersebut melaksanakan pelayanan kesehatan umum dan spesialistik bagi warga di Limo Badak, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam.
Jalin Kolaborasi
Relawan RSKKA, dr Wildan Hartawan menerangkan bahwa dalam menjalankan layanan kesehatan kali ini, tim RSKKA berkolaborasi dengan Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “Kami menurunkan satu dokter spesialis (PPDS) psikiatri, satu spesialis (PPDS) anak, dan dua dokter umum. Kami dibantu dokter spesialis (PPDS) penyakit dalam dan dokter konsultan spesialis kesehatan jiwa/Sp.KJ(K) dari UB,” ujarnya.
Lebih lanjut, dr Wildan mengatakan bahwa kegiatan tersebut dilakukan sebagai respons terhadap kondisi pascabencana lantaran masih terbatasnya akses masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan. Melalui kegiatan tersebut, setidaknya sebanyak 123 pasien memperoleh pelayanan medis. Mulai dari pemeriksaan kesehatan umum hingga penanganan oleh tenaga medis spesialistik.

“Kami lakukan pemeriksaan dasar (tanda vital, red), konsultasi dokter umum untuk poli umum, dan konsultasi dokter spesialis sesuai dengan spesialisasinya. Selain itu, mereka juga bisa melakukan cek gula, kolesterol, dan asam urat gratis sesuai dengan kebutuhan dan keluhannya. Setelah konsultasi, mereka dapat obat gratis dari kami,” terangnya.
“Setelah pelayanan dan diskusi di posko, kami juga melangsungkan layanan home visit bagi pasien dengan masalah kesehatan jiwa, anak, dan ibu hamil,” sambungnya.
Diskusi dan Dengarkan Aspirasi
Pelayanan kesehatan ini menjadi bagian dari upaya pemulihan sektor kesehatan bagi masyarakat yang masih mengalami kendala akses layanan medis. Namun, tidak hanya layanan kesehatan, tim juga melakukan diskusi dengan masyarakat terdampak mengenai kebutuhan mereka di luar aspek medis.
“Kami juga ada sedikit diskusi tentang kebutuhan masyarakat setempat selain layanan kesehatan. Mereka mengatakan bahwa akses air bersih masih kurang karena pipa dari sumber air di pegunungan hancur akibat longsor,” imbuhnya.
Kendati tim relawan harus menghadapi tantangan medan yang masih terisolasi, antusiasme serta dukungan penuh dari masyarakat setempat menjadi penyemangat tersendiri bagi seluruh tim. Pada akhir, dr Wildan menyampaikan bahwa partisipasi aktif warga turut berperan besar dalam mendukung kelancaran pelayanan, sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung dengan tertib dan optimal.
Penulis: Yulia Rohmawati





