Universitas Airlangga Official Website

Jelang Hari Kemerdekaan, Pakar UNAIR Soroti Tradisi Barikan Khas Jawa Timur

Ilustrasi Tradisi Barikan (Foto: Kompas)
Ilustrasi Tradisi Barikan (Foto: Kompas)

UNAIR NEWS – Menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, masyarakat antusias merayakan dengan beragam tradisi daerah. Di Jawa Timur, salah satu tradisi yang masih lestari hingga saat ini adalah barikan. Tradisi tersebut umumnya berlangsung pada malam 16 Agustus, sehari sebelum peringatan Proklamasi berkumandang.

Guru Besar Ilmu Sejarah Perkotaan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Dr Purnawan Basundoro SS MHum menjelaskan tradisi barikan menjadi pengingat bahwa segala hal yang telah manusia peroleh, termasuk kemerdekaan merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa.

Wujud syukur ini biasanya warga lakukan dengan duduk beralaskan tikar, memanjatkan doa, kemudian acara berlanjut dengan makan bersama. “Kita berdoa agar perjalanan hidup ke depan senantiasa mendapat keselamatan,” jelasnya.

Prof Dr Purnawan Basundoro SS MHum (Foto: Istimewa)
Asal-Usul Tradisi Barikan

Mengenai asal-usul istilah barikan sendiri, Prof Pur menyebut belum ada keterangan pasti. Dalam bahasa Jawa resmi pun tidak memuat istilah tersebut. Kendati begitu, praktik berkumpul, berdoa, dan makan bersama sudah ada jauh sebelum masa kolonial. Masyarakat mengenalnya sebagai selametan, sebuah ritual doa untuk memohon keselamatan dan keberkahan sebelum atau setelah kegiatan penting.

Selametan biasanya dilakukan sebelum panen padi atau memulai giling tebu di pabrik gula. Tradisi selametan inilah yang kemudian berlanjut dan muncul dalam bentuk barikan dan tradisi lainnya,” ungkapnya.

Seiring berjalannya waktu, tradisi barikan mengalami pergeseran bentuk. Jikalau dahulu suasananya lebih khidmat dan umumnya hanya orang tua yang hadir, kini anak-anak dan remaja juga ikut meramaikan. Penambahan unsur hiburan, seperti lomba menurutnya, menjadi salah satu cara untuk menarik generasi muda agar mau terlibat.

“Dari segi makanan juga berubah. Kalau dulu, makanan yang disajikan sederhana, misalnya tumpeng, sekarang jauh lebih beragam. Ada nasi kotak, camilan, dan berbagai hidangan lain. Kadang makanan dibawa oleh masing-masing warga untuk saling bertukar,” tambahnya.

Tantangan Pelestarian Tradisi Barikan

Persiapan hingga pembiayaan tradisi barikan biasanya warga tanggung bersama melalui gotong royong. Namun, di tengah nilai kebersamaan itu, Prof Pur menyoroti ada tantangan besar yang mulai menggerus, yakni munculnya sikap individualis. Pengaruh gawai membuat individu cenderung sibuk dengan dunianya sendiri, terlebih lagi dengan kemandirian ekonomi semakin menumbuhkan rasa enggan untuk terlibat dalam kegiatan bersama.

“Untuk merebut kemerdekaan dulu, bangsa ini harus bahu-membahu. Tidak boleh individualis, karena hidup bermasyarakat memerlukan ikatan kebersamaan. Tradisi semacam ini justru sebenarnya untuk menghilangkan sifat egoisme,” tegasnya.

Kendati demikian, Prof Pur menekankan bahwa perubahan bentuk tradisi adalah hal yang wajar, karena masyarakat dan zaman pun sudah berubah. “Yang penting adalah esensinya, kesadaran bersama bahwa 17 Agustus adalah peristiwa penting yang harus diperingati. Barikan harus tetap dijaga karena di situlah nilai kebersamaan dan rasa syukur kita akan kemerdekaan,” pungkasnya.

Penulis: Fania Tiara Berliana Marsyanda

Editor: Ragil Kukuh Imanto