UNAIR NEWS – Minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok rumah tangga di Indonesia. Berdasarkan data dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki), sepanjang periode Januari hingga September 2025, konsumsi minyak sawit mencapai 18,5 juta ton, 40 persennya disumbangkan dari sektor pangan.
Minyak goreng yang tidak digunakan kembali akan menjadi limbah rumah tangga sisa penggorengan atau sering disebut minyak jelantah. Selain berdampak buruk bagi tubuh, minyak jelantah yang dibuang ke lingkungan dapat menyebabkan pencemaran air dan tanah. Pencemaran ini selain merusak ekosistem juga merusak estetika lingkungan dan menimbulkan aroma tak sedap.
Menanggapi masalah itu, mahasiswa BBK7 Universitas Airlangga mengadakan Sosialiasi pengolahan minyak jelantah di Balai Desa Kemangi, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik pada hari Sabtu tanggal 24 Januari 2026 dengan dihadiri oleh ibu-ibu PKK dan perangkat Desa Kemangi.
Mahasiswa sebelumnya telah meminta kolaborasi dengan dengan warga untuk menyediakan minyak jelantah sebagai bahan baku. Mahasiswa kemudian membantu menyiapkan bahan-bahan seperti merendam minyak jelantah dengan arang supaya menghilangkan bau menyengat.
Pada hari pelaksanaan acara, mahasiswa menjelaskan bahan-bahan yang diperlukan seperti minyak jelantah yang telah direndam semalaman dengan arang dan parafin dengan perbandingan 1:1, krayon sisa untuk pewarna, benang kasur untuk sumbu, aromatic essence sebagai pewangi, dan wadah/gelas kecil bekas.
Mahasiswa kemudian mendemonstrasikan pembuatan lilin aroma dengan memasak minyak jelantah dengan dicampur parafin hingga larut. Kemudian setelah larut dimasukkan krayon sisa sesuai dengan warna yang diinginkan hingga warna tercampur, sesudahnya tunggu hingga dingin baru dimasukkan ke dalam wadah/gelas kecil bekas, sembari dituangkan dimasukkan juga aromatic essence sesuai selera, kemudian gantungkan tali dengan bantuan lidi atau tusuk supaya tetap berada di tengah, terakhir menunggu lilin hingga dingin.
“Proker JELARA hadir sebagai solusi kreatif mengolah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi ramah lingkungan yang berguna bagi semua orang.” ungkap Valerina selaku Project Officer JELARA
Warga antusias mengikuti sosialiasi ini, bahkan beberapa memberikan masukan dan saran yang salah satunya adalah memberikan variasi aroma kemangi pada lilin supaya identik dengan nama desa. Program ini adalah bentuk kontribusi civitas akademika Universitas Airlangga dalam mewujudkan cita-cita SDGs terkhusus SDG ke-12, Konsumsi dan Produksi Sadar Lingkungan dan Tridharma Perguruan Tinggi.
Penulis: Reinand Ari Pratama





