Di bagian lain dunia, kita menyaksikan kemiskinan yang meluas setiap hari yang disebabkan oleh berbagai faktor. Mulai dari perubahan iklim, bencana alam, dan konflik domestik hingga perang yang sedang berlangsung di Ukraina dan Gaza, Palestina yang telah mengakibatkan kelaparan mengerikan dan menyebabkan kematian.
Kesulitan serupa juga terjadi di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia; jumlah warga miskin meningkat di mana-mana. Presiden Indonesia, Prabowo, mengakui bahwa sekitar 25 persen anak-anak di Indonesia pergi ke sekolah tanpa sarapan. Dia memiliki komitmen yang kuat untuk memberantas kemiskinan dan kelaparan di negara ini.
Namun, perlu dicatat bahwa dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Indonesia memiliki banyak adat istiadat luhur yang diwariskan turun-temurun. Adat istiadat tersebut juga terbukti dapat memberdayakan masyarakat, serta saling membantu, terutama kepada mereka yang membutuhkan.
Para leluhur kita memiliki pandangan visioner tentang bagaimana mengatur hubungan sosial dan ekonomi serta saling membantu dengan menggunakan kearifan lokal. Salah satunya adalah metode “Jimpitan.” Struktur komunitas ini telah ada sejak lama dan masih dipraktikkan di banyak daerah di seluruh negeri.
Dalam bahasa Jawa, “jimpit” berarti mengambil barang kecil atau lembut dengan ujung jari. Sementara itu, “Jimpitan” merujuk pada kegiatan mengumpulkan bahan makanan pokok—biasanya beras—yang warga kumpulkan untuk kepentingan seluruh desa. Sistem jimpitan ini telah terbukti dapat diandalkan selama berabad-abad dalam membantu mereka yang kurang mampu di masa-masa sulit. Biasanya, praktik ini terjadi pada malam hari oleh warga yang bertugas ronda di wilayah tersebut – yang terkenal dengan nama Ronda – yang mengambil beras (dalam jumlah sedikit) yang dikumpulkan setiap rumah tangga dan menaruhnya di sebuah kaleng kecil di depan rumah. Dalam perkembangannya, warga setempat sepakat untuk mengganti beras dengan uang agar lebih efisien. Dan hasilnya masih digunakan untuk kepentingan desa, terutama untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Ketika saya masih kecil pada tahun 1960-an, saya melihat ibu-ibu rumah tangga dengan kesadaran sosial yang tinggi mengumpulkan beras yang kemudian akan para peronda kumpulkan. Kemudian, uangnya disimpan di balai warga untuk disumbangkan kepada tetangga yang kurang mampu. Ketika tingkat inflasi Indonesia mencapai 650 persen pada tahun 1960-an, semua kebutuhan rakyat dibatasi atau disuplai oleh pemerintah. Saya sering ikut mengantre panjang di kampung untuk mendapatkan distribusi pangan dari pemerintah. Namun, karena masih ada sistem jimpitan di lingkungan kami, masyarakat tidak merasa terlalu buruk saat itu.
Kearifan lokal ini sering dipandang sebagai sistem yang ketinggalan zaman dari perspektif modern; padahal, jelas bahwa ketahanan nasional masyarakat Indonesia terjadi berkat kearifan lokal seperti sistem jimpitan ini. Pembangunan ekonomi suatu negara selalu diperdebatkan dalam hal apakah itu berfokus pada pertumbuhan atau pemerataan. Pertumbuhan ekonomi yang pesat sering kali menghasilkan “kerusakan sampingan,” seperti semakin lebar jurang antara kaya dan miskin. Di lingkungan modern, kita sering melihat peningkatan individualisme yang mengabaikan kepedulian terhadap orang-orang yang kurang beruntung. Konsumerisme yang tinggi selalu mengabaikan rasa keadilan sosial bagi orang miskin.
Sistem kearifan lokal, seperti jimpitan di atas, telah dipertajam seiring waktu oleh para leluhur kita dan terbukti dapat menumbuhkan rasa kebersamaan yang kuat dalam masyarakat kita. Meskipun tren ekonomi dan gaya hidup modern terus berkembang, sistem ini tidaklah usang; dan sebagai bangsa besar, kita tidak boleh membuang kearifan lokal demi pandangan modern yang sempit. Indonesia memiliki beragam budaya yang indah, dan sistem Jimpitan yang kita bahas ini hanyalah salah satu bagian dari mozaik budaya negara ini. Dan kearifan lokal ini adalah salah satu bentuk ketahanan pangan nasional.





