Universitas Airlangga Official Website

Juara 2 Nasional Mahasiswa Psikologi UNAIR Angkat Prinsip CERMAT Hadapi Era AI

Potret Fadiani Risqita Mamang mahasiswa Fakultas Psikologi UNAIR berhasil meraih Juara 2 Nasional. (Foto: Istimewa)
Potret Fadiani Risqita Mamang mahasiswa Fakultas Psikologi UNAIR berhasil meraih Juara 2 Nasional. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menorehkan prestasi di kancah nasional. Dalam ajang Psychology Scientific Event (Psyfic) 2025 yang digelar di Universitas Hasanuddin, Makassar, pada Minggu (31/8/2025), Fadiani Risqita Mamang mahasiswa Fakultas Psikologi UNAIR berhasil meraih Juara 2 Nasional dalam kategori poster infografis.

Karya yang diusung bertajuk AI Bisa Cepat, Tapi Manusia Harus Tetap CERMAT: Mengelola Teknologi untuk Membangun Resiliensi dan Kendali Diri. Prestasi ini menjadi semakin istimewa karena diraih secara individu, di tengah dominasi peserta lain yang berkompetisi dalam tim.

Dalam karyanya, mahasiswa UNAIR ini mengangkat isu tentang dampak perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) terhadap kesehatan mental, khususnya pada generasi muda. Menurutnya, banyak individu mulai bergantung pada AI sehingga kapasitas berpikir kritis menurun, regulasi emosi melemah, dan kesehatan mental ikut terganggu.

“Tema besar lomba adalah Psychological Well-being in The Digital Age. Saya menafsirkan bahwa kuncinya bukan menolak teknologi, tetapi belajar mengelolanya agar tetap sehat secara psikologis,” jelas Fadiani.

Sebagai solusi, ia memperkenalkan Prinsip CERMAT, sebuah panduan sederhana namun aplikatif dalam mengelola penggunaan teknologi berbasis AI. Akronim tersebut terdiri dari Cek Fakta, Evaluasi Emosi, Rutin Detox Digital, Mindful Menggunakan AI, dan Tetap Terhubung Nyata.

“Prinsip CERMAT sengaja saya buat ringkas dan mudah diingat agar dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, meskipun sederhana, ia punya fondasi ilmiah dari riset psikologi terbaru,” ungkapnya.

Poster infografis ini dirancang dengan memadukan literatur akademis dan komunikasi visual yang edukatif. Menurutnya, tantangan terbesar adalah menyederhanakan konsep kompleks menjadi visual yang mudah dipahami, tanpa kehilangan makna akademisnya.

Proses penyusunan karya berlangsung sekitar dua pekan, mulai dari riset literatur hingga desain final. Ia mengaku tantangan terberat adalah menjadi peserta individu yang harus bersaing dengan tim dari universitas besar lain seperti UGM dan UNPAD.

“Rasanya cukup berat, tapi juga menantang. Saya belajar tentang mengubah konsep akademis yang kompleks menjadi poster yang komunikatif. Alhamdulillah, usaha itu terbayar saat diumumkan sebagai juara dua,” ujarnya.

Capaian ini disambut positif oleh keluarga, dosen, dan teman-teman kampus. Baginya, kemenangan ini menjadi bukti bahwa keberanian mencoba hal baru selalu memberi hasil berharga.

“Sebagai mahasiswa UNAIR, saya ingin membuktikan bahwa kita bisa bersuara dalam isu-isu psikologi dan teknologi di tingkat nasional, meski berkompetisi sendiri. Kedepan, saya ingin mengembangkan prinsip CERMAT menjadi modul psikoedukasi yang bisa diterapkan di sekolah atau komunitas,” pungkas Fadiani .

Ia juga berpesan agar mahasiswa lain tidak ragu untuk mencoba. “Kadang kita merasa belum siap, tapi justru dengan ikut lomba kita belajar, berkembang, dan menemukan potensi diri.”

Penulis: Nafiesa Zahra

Editor: Khefti Al Mawalia