UNAIR NEWS – Suasana belajar anak-anak Desa Sidorejo, Kabupaten Lamongan, menjadi lebih hidup melalui kegiatan edukatif dan rekreatif yang digagas mahasiswa BBK 7 UNAIR di tiga sekolah dasar setempat, yaitu SDN 1 Sidorejo, SDN 2 Sidorejo, dan MI Nurul Hidayah. Pembelajaran kosakata bahasa Inggris, pembuatan celengan dari botol bekas, dan permainan tradisional diikuti 118 siswa kelas 1–6 adalah upaya menjawab keterbatasan pembelajaran kreatif dan rendahnya minat baca, yang selama ini menjadi tantangan dalam menyiapkan generasi muda yang adaptif dan berdaya saing.
Bahasa Inggris dan Literasi Sejak Dini
Sesi membaca kosakata Bahasa Inggris dengan media karton bergambar memicu antusiasme siswa dan meningkatkan ketertarikan membaca sejak dini. Melalui metode interaktif, anak-anak tidak hanya menambah kosakata, tetapi juga memicu keberanian membaca dan berbicara, serta membuat siswa menjadi lebih percaya diri dalam mengenal bahasa baru. Program ini sejalan dengan SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas) dalam mendorong akses pembelajaran bermutu bagi seluruh anak.
Kreasi Celengan: Kreatif dan Hemat
Praktik membuat celengan kreasi dari bahan daur ulang dalam program kerja SAPA AKSARA di Sekolah Dasar Sidorejo oleh BBK 7 UNAIR (Foto: Dok. Tim)
Salah satu rangkaian program SAPA AKSARA ini berupaya untuk mendorong perubahan perilaku melalui pembuatan celengan. Botol plastik bekas diolah menjadi “celengan pintar” berwarna cerah yang mengajak anak-anak belajar menabung sejak dini sekaligus berkreasi dengan bahan daur ulang. Melalui kegiatan ini, siswa memahami nilai kreativitas, kebiasaan menabung, dan pemanfaatan ulang sampah, selaras dengan SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan) dalam membiasakan perilaku ramah lingkungan sejak usia dini
Kebersamaan Lewat Permainan Tradisional
Nilai kebersamaan dan sosial turut diperkuat melalui permainan tradisional yang melibatkan kerjasama, sportivitas, dan kemampuan sosial anak melalui interaksi langsung. Nilai kebersamaan dan penyelesaian konflik yang adil dalam kegiatan ini turut membentuk lingkungan sekolah yang inklusif dan peduli, sejalan dengan SDGs 11 tentang permukiman yang inklusif dan aman.
Secara keseluruhan, inisiatif ini memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat Desa Sidorejo dengan membentuk kebiasaan belajar yang positif, karakter peduli lingkungan, dan kohesi sosial sejak usia dini. Program ini berkontribusi langsung pada pencapaian SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan literasi, SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan) melalui edukasi daur ulang, serta SDGs 11 (Permukiman Berkelanjutan) dengan memperkuat komunitas yang inklusif dan berdaya.
Penulis: Lusi Enzelita dan Zahrotun Nurlita





