UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) berdiri sebagai institusi pada waktu revolusi kemerdekaan berakhir. Pengembangan infrastruktur gedung, dosen dan sumberdaya lainnya yang terbatas. Namun demikian, hal tersebut tidak membuat semangat civitas academica UNAIR padam begitu saja.
Berjalannya Infrastruktur Pendukung
Beberapa infrastruktur pendukung bidang pendidikan yang sangat penting yaitu sarana belajar seperti gedung, karyawan, dosen dan mahasiswa. Komponen tersebut tidak dapat terpisahkan karena merupakan satu kesatuan yang utuh. Tujuannya saling bersinergi dalam rangka meningkatkan kualitas SDM. SDM yang baik dan terdidik guna membangun peradaban dan karakter sebagai bangsa Indonesia.
UNAIR dalam perjalanan sejarahnya, menempati beberapa gedung sebagai tempat kuliah. Hal ini terjadi karena adanya keterbatasan, perkembangan mahasiswa dan situasi di mana universitas berdiri. Keterbatasan daya tampung gedung dan perkembangan jumlah mahasiswa menuntut penambahan yang lebih luas. Kondisi yang terjadi ini menyebabkan gedung perkuliahan menyebar ke mana-mana. Salah satu contohnya yaitu gedung Bahari yang merupakan milik Angkatan Laut.
Proses Perbaikan Infrastruktur
Pada periode awal UNAIR benar-benar sangat terbatas dalam banyak hal. Salah satunya, gedung yang dipergunakan dalam kondisi memprihatinkan. Keprihatinan itu tercermin dari beberapa gedung yang rusak dan lapuk akibat usia yang lama. Kondisi tersebut dilaporkan oleh Presiden UNAIR A.G Pringgodigdo pada Dies Natalis ke-2 tahun 1956.
Rencana perbaikan dan penambahan gedung terus dilakukan. Tahun 1958 dalam press release disebutkan bahwa UNAIR membangun gedung kuliah, kantor dan aula yang dapat memuat 2000 orang. Gedung lain yang dibangun yaitu melanjutkan pembangunan perpustakaan, perumahan guru besar dan tempat kegiatan mahasiswa.
Pembangunan infrastruktur diselesaikan dalam jangka waktu lima tahun. Menurut A.G Pringgodigdo, UNAIR nantinya akan memiliki kampus yang modern. Kemudian pada Maret 1959 terjadi pembangunan Kampus Dharmawangsa-B UNAIR ditandai oleh berdirinya gedung tata usaha dan Fakultas Hukum. Biaya pembangunan gedung tata usaha memerlukan biaya empat juta rupiah dan gedung Fakultas Hukum malah membengkak sebab situasi politik yang tidak kondusif dan inflasi.
Penulis: Ersa Awwalul Hidayah
Editor: Yulia Rohmawati





