UNAIR NEWS – Pemeliharaan kelinci pada kawasan beriklim tropis seperti Indonesia memiliki banyak tantangan dan hambatan. Terutama saat musim kemarau yang menghasilkan suhu tinggi mencapai 34 derajat Celsius.
Suhu lingkungan yang ideal untuk kelinci adalah 21 ± 2derajat Celsius, sedangkan pada suhu 32 ± 2 derajat Celsiusdapat menyebabkan kelinci mengalami heat stress. Dosen prodi Kedokteran Hewan, Sekolah Ilmu Kesehatan dan Ilmu Alam (SIKIA), Universitas Airlangga Banyuwangi, Bodhi Agustono drh M Si menuturkan bahwa pada kondisi itu kelinci berpotensi mengalami banyak dampak negatif.
“Hal ini dapat menyebabkan stres pada kelinci dan dapat menimbulkan dampak negatif seperti penurunan konsumsi pakan, laju pertumbuhan, berat badan, sehingga dapat mengakibatkan kerugian yang besar,” tuturnya.
Heat Stress
Berdasar Association of Farmworker Opportunity Program (AFOP), heat stress merupakan hilangnya kemampuan tubuh untuk menjaga homeostasis yang dapat diukur dari meningkatnya suhu kepala dan badan pada kelinci. Peneliti SIKIA UNAIR tersebut mengatakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi stres pada ternak adalah penambahan jenis pakan berupa feed additive.
“Penambahan feed additive dalam pakan merupakan salah satu langkah untuk meningkatkan penampilan produksi ternak. Salah satu upayanya, memberikan feed additive alami berupa kayu secang,” katanya.
Antioksidan
Salah satu spesies tumbuhan obat yang dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional dan sebagai antioksidan adalah tumbuhan secang (Caesalpinia sappan L.). Secang memiliki kandungan senyawa fenolik seperti flavonoid dan mempunyai antioksidan sebagai penangkap radikal bebas. Kayu secang mempunyai lima kandungan senyawa aktif yang terkait dengan flavonoid. Yaitu, brazilin, chalcone dan sappanin, sappancalchone yang dapat sebagai antioksidan primer maupun antioksidan sekunder.
“Kayu secang mempunyai daya antioksidan dengan indeks antioksidatif ekstrak kayu secang lebih tinggi dari antioksidan komersial, sehingga berpotensi untuk menangkal radikal bebas,” katanya.
Antioksidan merupakan senyawa yang dapat memperlambat atau mencegah reaksi oksidasi dengan cara menghentikan reaksi radikal bebas. Antioksidan juga dapat sebagai feed supplement, antara lain, vitamin A, C, dan E.
Kayu secang memiliki kandungan senyawa yang tidak ada di dalam tanaman lain. Yaitu, senyawa brazilin (C16H14O5). Karena itu, Bodhi Agustono drh M Si melakukan penelitian pengaruh pemberian ekstrak kayu secang (Caesalpinia sappan L.) untuk mengetahui hasil berat hidup akhir dan berat karkas pada kelinci pedaging jantan yang terpapar heat stress.
“Penelitian tersebut menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hewan cobanya adalah 20 ekor kelinci jantan jenis rex. Kami membagi kelinci menjadi empat kelompok perlakuan, yaitu K+ (complete feed + heat stress); K- (complete feed); P1 (complete feed + ekstrak kayu secang 100 mg/kg pakan + heat stress); P2 (complete feed + ekstrak kayu secang 300 mg/kg pakan + heat stress) diberikan selama 28 hari,” ungkapnya.
“Rata-rata nilai berat hidup akhir K+ (2220,00), K- (2239,80), P1 (2241,60), dan P2 (2242,60). Rata-rata nilai berat karkas K+ (1132,40), K- (1232,00), P1 (1233,00), dan P2 (1233,20),” imbuhnya.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata (p<0,05) pada perlakuan dan kontrol. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian kayu secang (Caesalpinia sappan L.) dapat mempertahankan berat hidup akhir dan berat karkas kelinci jantan yang dipapar heat stress.
Penulis: azhar burhanuddin
Editor: Feri Fenoria





